PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Indonesia melalui regulasi terbaru tetap konsisten mewajibkan produsen mobil listrik asal China untuk memenuhi standar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kebijakan yang ditegaskan pada Kamis (16/4/2026) ini bertujuan agar investasi asing yang masuk memberikan dampak nyata bagi penguatan ekosistem industri komponen di tanah air.

Langkah ini dipandang sebagai solusi untuk memastikan bahwa pasar otomotif nasional tidak hanya menjadi tempat pemasaran, tetapi juga basis produksi yang kuat. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Oto, pengawasan ketat terhadap komitmen para produsen otomotif global kini menjadi prioritas utama lembaga legislatif.

"Meskipun laris, produk China sering menggunakan komponen impor yang lebih murah. Hal ini memicu diskusi mengenai pelonggaran aturan demi investasi versus urgensi lokalisasi industri," kata Chusnunia selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

Chusnunia menilai bahwa fleksibilitas dalam kebijakan industri otomotif memiliki dampak ganda yang harus diwaspadai oleh pemerintah. Di satu sisi, pelonggaran aturan memang mampu menarik minat investor besar, namun di sisi lain terdapat risiko terhambatnya pertumbuhan manufaktur lokal.

"Ia memandang fleksibilitas kebijakan mengenai TKDN menjadi pedang bermata dua karena di satu sisi dapat menarik investasi, tetapi di sisi lain berisiko memperlambat industri komponen lokal," ujar Chusnunia.

Saat ini, pemerintah menetapkan ambang batas TKDN minimal sebesar 40 persen bagi merek-merek baru, termasuk BYD, agar bisa mendapatkan fasilitas insentif. Ketegasan dalam menagih janji lokalisasi menjadi kunci utama agar target kemandirian industri otomotif nasional dapat tercapai tepat waktu.

"Kita harus mengawasi bersama dan mendorong pemerintah menagih janji produsen EV (kendaraan listrik) China, seperti BYD, untuk memenuhi syarat 40 persen TKDN guna mendapatkan insentif," imbuh Chusnunia.

Menanggapi tuntutan tersebut, pihak produsen menyatakan bahwa mereka saat ini tengah berada dalam fase persiapan teknis yang intensif. Perusahaan sedang fokus pada sinkronisasi peralatan dan jalur manufaktur guna memastikan proses produksi massal berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

"Mulai dari kuartal pertama tahun ini kita sudah bisa memulai serangkaian tes sangat komprehensif, penyelarasan, jalur produksi, jigs dan peralatan teknis," ujar Eagle Zhao, President Director of PT BYD Motor Indonesia.