PORTAL7.CO.ID - Ilmu Tauhid merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman yang menuntut setiap individu mukalaf untuk mengenal Tuhannya dengan keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tanpa landasan tauhid yang benar, seluruh amal ibadah seseorang ibarat debu yang beterbangan ditiup angin kencang karena kehilangan poros utamanya. Oleh karena itu, memahami siapa Allah Swt bukan sekadar kewajiban intelektual, melainkan sebuah kebutuhan spiritual yang akan menentukan kualitas penghambaan seorang manusia di hadapan Sang Khalik.

Upaya mengenal Allah, atau yang sering disebut dengan istilah *ma'rifatullah*, merupakan puncak dari segala pencapaian ruhani seorang hamba. Allah Swt menciptakan manusia dengan tujuan yang sangat mulia, yakni agar mereka menyembah-Nya dengan kesadaran penuh akan keagungan-Nya. Kesadaran ini hanya dapat diraih apabila kita menyelami dalil-dalil naqli maupun aqli yang telah dihamparkan di alam semesta dan dalam kitab suci.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Terjemahan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adh-Dhariyat: 56)

Memahami sifat wajib Allah berarti kita sedang membedah relasi ontologis antara Sang Khalik yang bersifat *Qadim* (terdahulu tanpa awal) dengan makhluk yang bersifat *Hadits* (baru dan diciptakan). Perbedaan mendasar ini menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya dalam bentuk, sifat, maupun perbuatan. Keyakinan ini menjadi benteng utama yang menjaga akidah seorang Muslim dari pemahaman antropomorfisme (menyerupakan Allah dengan makhluk) maupun ateisme.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Ash-Shura: 11)

Dampak dari pemahaman tauhid yang mendalam ini akan sangat terasa dalam pembentukan akhlak dan karakter seorang Muslim. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah memiliki sifat *Bashar* (Maha Melihat) dan *Sama'* (Maha Mendengar), maka ia akan senantiasa merasa diawasi dalam setiap gerak-geriknya (*muraqabah*). Hal ini menjadi kontrol internal yang sangat kuat bagi individu untuk menjauhi kemaksiatan dan konsisten dalam melakukan kebajikan, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Para ulama mutakalimin telah berjuang keras merumuskan sistematika ini demi menjaga kemurnian akidah umat dari berbagai syubhat dan pemikiran yang menyimpang. Warisan intelektual ini merupakan harta karun yang harus terus dipelajari dan diajarkan kepada generasi mendatang. Tanpa pemahaman teologis yang kokoh, iman seseorang akan mudah goyah saat diterpa badai logika materialisme dan sekularisme yang kian masif di era modern ini.