Kebakaran yang dipicu oleh korsleting listrik masih menjadi ancaman serius bagi keselamatan hunian di Indonesia. Fenomena arus pendek ini merupakan salah satu penyebab utama insiden kebakaran yang seringkali mengakibatkan kerugian materiil dan korban jiwa. Kejadian ini umumnya terjadi tanpa peringatan, bermula dari sistem kelistrikan yang mengalami kegagalan fungsi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai mekanisme terjadinya korsleting sangat krusial untuk upaya pencegahan.

Secara teknis, korsleting listrik didefinisikan sebagai kondisi di mana dua konduktor yang memiliki potensi tegangan berbeda bersentuhan langsung. Kontak tidak terencana ini menyebabkan aliran arus listrik melonjak drastis dan tidak terkontrol. Lonjakan arus yang masif inilah yang menjadi cikal bakal bencana kebakaran di dalam rumah.

Salah satu pemicu utama kegagalan kontak ini adalah kerusakan pada material isolasi yang melapisi kabel listrik. Isolasi berfungsi sebagai pelindung agar konduktor tidak saling bersentuhan atau terhubung dengan material lain yang tidak bertegangan. Kerusakan isolasi ini dapat diakibatkan oleh usia pakai kabel, beban listrik berlebihan, atau faktor eksternal seperti gigitan tikus.

Dr. Kevin Marojahan Banjarnahor, seorang Dosen dan Peneliti dari Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan STEI ITB, menjelaskan definisi teknis dari fenomena ini. Menurutnya, korsleting terjadi ketika konduktor bertegangan bersentuhan dengan konduktor yang tidak bertegangan. Ia memberikan contoh spesifik bahwa rusaknya isolasi kabel akibat gigitan tikus dapat menjadi penyebab langsung dari kondisi berbahaya tersebut.

Kondisi korsleting yang menghasilkan lonjakan arus listrik kemudian memicu peningkatan temperatur yang ekstrem pada titik kontak. Percikan listrik yang dihasilkan dari arus pendek ini memiliki daya panas yang luar biasa. Suhu percikan api bahkan dilaporkan mampu mencapai lebih dari 3.000 derajat Celsius.

Suhu yang sangat tinggi ini sangat berbahaya karena mampu membakar material di sekitarnya dalam hitungan detik. Jika percikan api menyambar material yang mudah terbakar, seperti kayu, plastik, atau kain, api dapat langsung membesar dengan cepat. Risiko kebakaran semakin tinggi apabila sistem pengaman listrik, seperti MCB, tidak bekerja secara optimal.

Oleh karena itu, pemeriksaan rutin terhadap instalasi listrik dan kondisi kabel di rumah menjadi langkah pencegahan yang vital. Memastikan isolasi kabel tetap utuh dan MCB berfungsi normal dapat memutus rantai penyebab kebakaran akibat arus pendek. Kewaspadaan terhadap bahaya korsleting listrik harus ditingkatkan demi menjaga keamanan dan keselamatan seluruh penghuni rumah.