PORTAL7.CO.ID - Acara resmi pengangkatan Markwayne Mullin sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri, menggantikan Kristi Noem, pada Selasa (24 Maret 2026), justru dipenuhi berbagai isu di luar agenda utama. Presiden Donald Trump memanfaatkan momen tersebut untuk membahas topik-topik lain seperti perang Iran dan mekanisme pemilu.

Presiden Trump dilaporkan tampil kurang prima dalam menyampaikan pidatonya, bahkan sempat mengakui bahwa ia tidak mengetahui secara mendalam latar belakang Mullin. Salah satu fakta yang luput dari perhatian Trump adalah status Mullin sebagai seorang keturunan suku asli Amerika (Native-American).

Saat memberikan sambutan, Trump menyoroti latar belakang Mullin sebagai mantan petarung MMA. "Markwayne juga berkarir sebagai petarung MMA," ujar Trump, dengan nada bicara yang dinilai kurang jelas oleh beberapa saksi mata.

Lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa ia akan lebih cepat mengambil keputusan untuk menunjuk Mullin jika ia mengetahui fakta-fakta tersebut lebih awal. Pernyataan ini disambut tawa oleh kerumunan kecil yang hadir di Oval Office saat itu.

Ketika diminta menjelaskan perbedaan kinerja Mullin dibandingkan Noem dalam memimpin agensi tersebut, Trump justru tidak menyebutkan nama mantan sekretaris kabinet tersebut. Ia malah memuji keamanan perbatasan di bawah kepemimpinan Tom Homan.

Trump menyebutkan bahwa keamanan perbatasan saat ini adalah "teraman yang pernah ada" berkat upaya yang ia anggap "luar biasa" dari Tom Homan. Pujian ini disampaikan di tengah diskusi mengenai prioritas penegakan imigrasi yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pelantikan tersebut.

Sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Presiden Trump menyebabkan upacara pelantikan yang seharusnya singkat membengkak hingga durasi 45 menit. Sebagian besar waktu tersebut dihabiskan untuk membahas kemenangan Trump di Oklahoma, negara bagian asal Mullin, alih-alih tugas baru sang menteri.

Trump juga menolak menjawab pertanyaan dari jurnalis Kaitlan Collins dari CNN dan wartawan lainnya mengenai kesepakatan yang diajukan ke Gedung Putih pada hari Senin sebelumnya. Ia menyatakan ketidaksukaannya terhadap kesepakatan dengan oposisi yang ia tuduh berniat menyakiti warga Amerika.

Selain itu, Presiden juga menyerang isu kaum transgender, menuding para dokter melakukan tindakan "mutilasi" terhadap anak-anak, sebuah diksi yang dinilai tidak tepat oleh beberapa pengamat.