Para produsen kendaraan roda dua di Indonesia menegaskan komitmen kuat mereka untuk terus mengembangkan dan memasarkan segmen motor listrik. Keputusan strategis ini diambil meskipun kepastian mengenai kebijakan insentif lanjutan dari pemerintah belum juga diumumkan secara resmi. Sikap ini menunjukkan optimisme jangka panjang industri terhadap masa depan elektrifikasi transportasi domestik.

Data penjualan terbaru menunjukkan bahwa penetrasi motor listrik di pasar domestik masih sangat kecil dan jauh dari target yang diharapkan. Berdasarkan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), segmen kendaraan listrik hanya berkontribusi di bawah 1% dari total penjualan nasional tahun 2025. Angka total penjualan sepeda motor pada tahun tersebut mencapai 6.412.769 unit, yang berarti motor listrik hanya terjual sekitar 50.000 unit.

Dominasi pasar sepeda motor di Indonesia masih dipegang teguh oleh kendaraan bermesin konvensional, terutama segmen skuter matik (skutik). Segmen skutik menjadi primadona dengan kontribusi mencapai 91,7% dari seluruh permintaan motor baru di Indonesia. Sementara itu, motor tipe *underbone* menyumbang 4,46% dan tipe *sport* mencapai 3,51%, jauh melampaui capaian kendaraan berbasis baterai.

Komitmen produsen untuk tetap bertahan didasarkan pada pandangan bahwa elektrifikasi merupakan keniscayaan global yang tidak dapat dihindari. Mereka menilai bahwa meskipun insentif berperan penting, kesiapan infrastruktur dan edukasi pasar adalah kunci utama dalam jangka panjang. Oleh karena itu, investasi pada model baru dan jaringan purna jual terus dilakukan guna mempersiapkan lonjakan permintaan di masa depan.

Rendahnya angka penjualan motor listrik memiliki implikasi serius terhadap target pemerintah dalam percepatan transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Jika penetrasi tidak meningkat secara signifikan, tujuan untuk mengurangi polusi dari sektor transportasi akan sulit tercapai tepat waktu. Produsen berharap adanya kepastian regulasi yang berkelanjutan untuk menstimulasi daya beli masyarakat terhadap produk ramah lingkungan ini.

Saat ini, pelaku industri masih menanti keputusan pemerintah terkait perpanjangan atau modifikasi skema insentif subsidi yang sebelumnya telah berjalan. Skema insentif yang lalu dinilai belum cukup efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang menjadi target pasar utama. Diharapkan kebijakan yang akan datang akan lebih adaptif dan mampu mengatasi hambatan harga yang masih menjadi kendala utama konsumen.

Meskipun dihadapkan pada tantangan pasar yang didominasi motor konvensional dan ketidakpastian insentif, produsen motor listrik menunjukkan ketahanan industri yang kuat. Mereka berupaya keras membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir, termasuk pengembangan baterai dan stasiun pengisian daya. Keberhasilan adopsi massal motor listrik kini sangat bergantung pada sinergi antara inovasi produsen, dukungan regulasi yang pasti, dan kesiapan konsumen domestik.