Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai setiap target yang kubuat di usia dua puluhan. Aku punya peta jalan yang jelas, dihiasi janji kesuksesan yang berkilauan dan dipuji banyak orang. Namun, semesta punya cara yang brutal dan tak terduga untuk merobek peta itu menjadi serpihan kecil tak berarti.
Puncak dari kesombonganku hancur ketika proyek impian yang kubangun selama bertahun-tahun—yang kuharap menjadi warisan—runtuh tanpa sisa. Kehilangan itu bukan hanya finansial; itu adalah pukulan telak bagi harga diriku yang selama ini kusandarkan pada gelar dan jabatan mentereng. Tiba-tiba, aku hanyalah Risa, tanpa embel-embel apa pun.
Aku mengasingkan diri ke sebuah pondok kecil yang sunyi di pedalaman, jauh dari hiruk pikuk kota yang pernah kusebut ‘kehidupan nyata’. Di sana, cermin tidak memantulkan wanita sukses, hanya seorang asing yang matanya dipenuhi pertanyaan dan kelelahan. Malam-malam terasa panjang, diisi bisikan penyesalan yang tak kunjung padam dan rasa malu yang mendalam.