Tiket itu, berwarna biru muda dengan cetakan kota di belahan dunia lain, terasa dingin di genggaman tanganku. Dalam hitungan minggu, aku akan terbang, memulai babak baru yang telah kuimpikan sejak lama—sebuah kebebasan yang terbentang jauh dari segala beban di rumah. Namun, tepat saat jemariku menyentuh permukaan koper yang siap kubawa, dering telepon memecahkan ilusi masa depanku.
Suara ibu di seberang sana terdengar parau, bukan karena bangga melepas kepergianku, melainkan karena keputusasaan yang mendalam. Perusahaan keluarga yang dibangun Ayah selama puluhan tahun tiba-tiba limbung, terempas badai krisis yang tak terduga, dan Ayah kini terbaring lemah. Keberangkatanku yang telah direncanakan matang harus berhadapan langsung dengan kenyataan pahit yang menuntut kehadiran segera.
Malam itu, aku duduk di tepi jendela, membiarkan cahaya bulan menyinari dua benda yang kini menjadi simbol konflik batinku: tiket penerbangan dan kunci gudang perusahaan. Air mata jatuh bukan karena kesedihan, melainkan karena kemarahan pada takdir yang begitu kejam, memaksa seorang gadis muda memilih antara impian pribadi yang berkilauan atau tanggung jawab yang terasa seperti rantai besi.
Aku memutuskan untuk tinggal. Keputusan itu terasa seperti mencabut paksa akar yang baru saja tumbuh, meninggalkan lubang menganga di hati. Aku menanggalkan gaun calon mahasiswa luar negeri dan mengenakan kemeja kebesaran Ayah, mengambil alih meja kerja yang penuh tumpukan faktur dan janji yang belum terbayar.
Hari-hari awal adalah neraka. Aku tidak mengerti bahasa bisnis, tidak menguasai manajemen, dan yang lebih buruk, aku harus menghadapi tatapan skeptis dari karyawan lama yang meragukan kemampuanku. Setiap pagi, aku harus memaksakan senyum di hadapan para pekerja, padahal di dalam hati, aku hanya ingin lari dan kembali menjadi diriku yang dulu, yang bebas dari angka-angka dan tenggat waktu.
Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah proses pendewasaan yang brutal mulai terbentuk. Aku mulai belajar sabar, belajar mendengarkan, dan belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan hanya jeda yang menuntut strategi baru. Aku menyadari bahwa kisah ini adalah babak paling krusial dalam **Novel kehidupan** yang sedang kutulis, di mana karakter utamanya diuji hingga batas kemampuan.
Aku tidak lagi memandang perusahaan ini sebagai beban yang merenggut impianku, tetapi sebagai warisan yang harus kuperjuangkan. Ketika berhasil menyelesaikan satu masalah kecil, atau ketika melihat senyum lega dari wajah seorang karyawan, aku merasakan kepuasan yang jauh lebih dalam daripada sekadar mendapatkan nilai A di mata kuliah manapun.
Aku melihat diriku di cermin. Gadis yang dulu hanya peduli pada dirinya sendiri telah hilang, digantikan oleh seseorang dengan mata yang lebih tajam, bahu yang lebih kuat, dan hati yang lebih lapang. Aku tidak terbang ke benua impianku, tetapi aku telah melakukan perjalanan terjauh: perjalanan ke dalam diriku sendiri.
Kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak tahun yang telah kau lewati, melainkan tentang seberapa besar kau bersedia berkorban demi sesuatu yang lebih besar dari dirimu. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan, perusahaan mulai stabil, tetapi pertanyaannya adalah: setelah semua ini, apakah aku masih berhak kembali mengejar tiket biru yang telah lama kusimpan di laci?