Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah hadiah yang datang seiring usia, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan darah dan air mata. Di awal usia dua puluhan, aku hidup dalam gelembung idealisme, merencanakan masa depan yang mulus tanpa hambatan berarti. Dunia terasa seperti kanvas kosong yang siap kuhiasi dengan warna-warna cerah impianku.
Namun, hidup punya rencana yang jauh lebih dramatis. Panggilan telepon larut malam mengubah segalanya; Ayahku jatuh sakit parah, dan tiba-tiba, beban mengelola toko buku antik keluarga—warisan yang sudah berdiri tiga generasi—jatuh ke pundakku. Aku, yang hanya tahu cara membaca buku, kini harus tahu cara menjualnya dan menjaga agar lampu tetap menyala.
Awalnya adalah serangkaian kegagalan yang memalukan. Aku salah menghitung stok, salah menentukan harga, dan kehilangan beberapa pelanggan setia karena keputusanku yang terburu-buru. Malam-malam kulalui dengan menatap laporan keuangan yang merah, rasa panik menjerat tenggorokanku, bertanya-tanya mengapa hal ini harus terjadi padaku.
Aku ingat pernah duduk sendirian di lantai gudang, dikelilingi tumpukan buku yang berdebu, dan merasa benar-benar hancur. Rasanya seperti semua yang kupercayai tentang diriku—kecerdasan, ambisi, masa depan—ternyata hanyalah ilusi. Aku ingin menyerah, lari, dan kembali ke masa ketika masalah terbesarku hanyalah memilih sampul buku mana yang harus kubaca.
Tetapi di tengah keputusasaan itu, sebuah kesadaran pahit menusukku: ini adalah ujian terberat yang pernah kuterima. Aku menyadari bahwa yang kualami ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang disebut orang sebagai Novel kehidupan, sebuah babak yang harus kulalui untuk membentuk karakter. Kedewasaan bukanlah tentang usia, melainkan tentang kemampuan bangkit setelah terjatuh paling dalam.
Aku mulai belajar dengan keras, bukan dari buku teks, melainkan dari pedagang pasar, akuntan kecil, dan bahkan para pelanggan yang selama ini kurasa hanya mengganggu. Aku membuang ego remajaku dan mulai menerima kritik, memahami bahwa setiap kesalahan adalah pelajaran berharga yang dibayar mahal.
Perlahan, toko itu mulai bernapas lagi. Aku tidak hanya menyelamatkan bisnis keluarga; aku menyelamatkan diriku sendiri dari kehampaan. Wajahku mungkin terlihat lebih lelah, namun mataku memancarkan ketegasan yang tidak pernah kumiliki sebelumnya—sebuah ketegasan yang lahir dari tanggung jawab.
Aku menyadari bahwa kedewasaan adalah proses menyakitkan dari pelepasan: melepaskan hak untuk menjadi ceroboh, melepaskan impian yang terlalu naif, dan menggantinya dengan ketahanan. Aku tidak lagi idealis yang ceria; aku adalah seorang pejuang yang tahu bahwa ketenangan adalah hasil dari badai yang berhasil dilewati.
Kini, toko itu stabil, Ayahku membaik, namun perjalanan ini masih panjang. Aku tahu ada babak-babak lain yang menanti, tantangan baru yang siap menguji batas kemampuanku. Jika ada satu hal yang kupelajari, itu adalah: jangan pernah takut pada badai, sebab ia adalah pemahat terbaik yang membentuk jiwamu menjadi baja yang tak mudah patah.