PORTAL7.CO.ID - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Tengah memberikan perhatian serius terhadap polemik rendahnya honorarium tenaga kesehatan (nakes) PPPK paruh waktu. Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah daerah segera merumuskan solusi konkret guna meningkatkan kesejahteraan para pelayan publik di sektor medis tersebut.

Persoalan ini mencuat setelah ditemukan adanya ketimpangan signifikan antara upah nakes dengan tenaga teknis lainnya di lingkungan pemerintah kabupaten. Berdasarkan data yang dihimpun, tenaga kebersihan dan sopir menerima honor sebesar Rp 500 ribu, sementara nakes hanya mendapatkan Rp 200 ribu per bulan.

Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah, Lalu Muhamad Akhyar, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang dinilai jauh dari standar kelayakan tersebut sebagaimana dilansir dari Detikcom. Kesenjangan ini dianggap tidak sebanding dengan beban kerja dan risiko yang dihadapi oleh para tenaga kesehatan.

"Kami merasa sangat miris dengan kondisi ini, sehingga kami meminta pemerintah daerah harus mampu mencari jalan keluar dengan berkreasi memangkas sektor anggaran yang kurang mendesak," ujar Lalu Muhamad Akhyar.

DPRD menekankan bahwa sektor kesehatan merupakan pilar vital yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa masyarakat luas. Oleh karena itu, stabilitas kesejahteraan para pekerjanya harus menjadi prioritas utama dalam penyusunan kebijakan anggaran daerah.

"Mengingat sektor tenaga kesehatan ini bersifat sangat krusial, maka pemerintah perlu memikirkan secara matang bagaimana formulasi jalan keluarnya," kata Lalu Muhamad Akhyar.

Meskipun menyadari adanya tekanan fiskal akibat kebijakan efisiensi dari Pemerintah Pusat, Akhyar berpendapat bahwa pemerintah daerah tetap harus memiliki kreativitas manajerial. Optimalisasi anggaran internal menjadi kunci agar layanan dasar masyarakat tidak terganggu oleh keresahan pekerja.

"Kami terus mendorong adanya peningkatan gaji bagi nakes, meskipun kita semua memahami saat ini sedang ada efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat," tegas Lalu Muhamad Akhyar.

Salah satu strategi analitis yang ditawarkan adalah dengan melakukan efisiensi pada kegiatan operasional yang bersifat seremonial atau kurang produktif. Pengalihan biaya rapat fisik menjadi pertemuan daring dianggap sebagai langkah taktis untuk menambah alokasi belanja pegawai.