Tren kuliner Indonesia saat ini menunjukkan pergeseran signifikan kembali ke akar, dengan rempah-rempah Nusantara menjadi sorotan utama. Kekayaan rasa dan manfaat kesehatan yang terkandung dalam rempah menjadikannya primadona di berbagai hidangan modern maupun tradisional.

Data menunjukkan peningkatan permintaan terhadap rempah lokal seperti kunyit, jahe, dan temulawak, didorong oleh kesadaran masyarakat akan pangan fungsional. Hal ini memicu inovasi di sektor makanan dan minuman, di mana rempah tidak lagi hanya pelengkap, tetapi bahan baku utama.

Secara historis, Indonesia dikenal sebagai ‘Kepulauan Rempah’ yang menjadi incaran pedagang dunia selama berabad-abad. Revitalisasi ini merupakan upaya penting untuk menegaskan kembali posisi strategis rempah Indonesia dalam peta kuliner global.

Menurut Chef Wira, seorang praktisi kuliner yang fokus pada masakan lokal, penggunaan rempah secara utuh dapat meningkatkan kedalaman rasa masakan secara alami. Ia menambahkan bahwa rempah adalah kunci untuk menjaga orisinalitas dan keunikan cita rasa masakan Indonesia di mata internasional.

Dampak positif dari tren ini terasa hingga ke tingkat petani, yang kini mendapatkan nilai tambah lebih tinggi untuk produk rempah berkualitas. Peningkatan permintaan domestik dan ekspor juga mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.

Saat ini, banyak restoran fine dining dan kafe modern mulai mengaplikasikan rempah dalam bentuk yang tidak konvensional, seperti infus minuman, dessert, dan bumbu fermentasi. Perkembangan ini membuktikan bahwa rempah Nusantara memiliki fleksibilitas tinggi untuk diadaptasi dalam berbagai format kuliner kontemporer.

Kebangkitan rempah Indonesia bukan hanya tren sesaat, melainkan fondasi kuat bagi ketahanan dan identitas kuliner bangsa di masa depan. Dukungan terhadap produk rempah lokal adalah langkah strategis untuk melestarikan warisan budaya sekaligus memajukan ekonomi kreatif nasional.