PORTAL7.CO.ID - Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi menyerukan kepada seluruh tokoh agama di Indonesia untuk meningkatkan intensitas penyampaian pesan damai, persaudaraan, dan kerukunan umat. Seruan ini disampaikan mengingat adanya beberapa hari besar keagamaan yang jatuh berdekatan, bahkan bertepatan pada tahun ini.
Momen spesial ini meliputi perayaan Hari Raya Nyepi, Idul Fitri, serta Paskah yang akan terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Menag melihat fenomena ini sebagai peluang emas untuk memperkuat ikatan harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurut pandangan Menag, setiap tokoh agama memegang peran krusial dalam upaya menjaga stabilitas kedamaian di lingkungan masing-masing. Momentum hari-hari besar keagamaan ini harus dimanfaatkan sebagai sarana pemersatu, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
"Para tokoh agama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni dan damai di tengah masyarakat. Momentum hari-hari besar keagamaan ini harus menjadi penguat persaudaraan, bukan sebaliknya," ujar Menag Nasaruddin Umar saat memberikan pernyataan di Jakarta, Kamis, seperti dilansir dari Antara.
Menag kemudian menguraikan nilai-nilai universal yang terkandung dalam setiap perayaan keagamaan tersebut. Nilai-nilai ini secara inheren mendorong terciptanya kehidupan sosial yang lebih baik dan beradab bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Nyepi mengajarkan pentingnya refleksi diri serta pengendalian diri yang merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, Idul Fitri menekankan penguatan tali persaudaraan melalui saling memaafkan.
Adapun peringatan Paskah membawa pesan harapan baru serta esensi kasih sayang yang universal. "Jika nilai-nilai tersebut disampaikan secara luas oleh para tokoh agama, masyarakat akan semakin terdorong untuk menjaga kerukunan dan persatuan bangsa," tegasnya.
Seruan ini sejalan dengan penekanan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya menjaga persatuan nasional. Presiden mengingatkan bahwa perbedaan adalah kenyataan hidup yang harus dikelola dengan penuh rasa saling menghormati.
"Perbedaan, itu bukan sesuatu yang harus mengarah kepada perpecahan. Kita perlu untuk menggalang persatuan, menggalang kerukunan untuk menghadapi keadaan yang penuh ketidakpastian ini," kata Presiden Prabowo Subianto.