Kedewasaan seringkali dianggap sebagai capaian usia, padahal esensinya terletak pada kemampuan individu menghadapi dan memproses kompleksitas kehidupan. Proses ini, yang sering kali menyakitkan, merupakan katalisator utama bagi pertumbuhan mental dan emosional seseorang.

Faktanya, setiap pengalaman, baik keberhasilan maupun kegagalan besar, menyumbang pada pembentukan kerangka berpikir yang matang. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi, sebuah indikator penting dari kedewasaan sejati.

Dalam konteks psikologi perkembangan, pengalaman traumatis atau menantang memaksa otak untuk mencari solusi adaptif baru. Adaptasi inilah yang kemudian menciptakan pola respons yang lebih terukur dan tidak impulsif di masa depan.