Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai usia tertentu, mendapatkan pekerjaan impian, atau memiliki kartu kredit tanpa batas. Hidupku saat itu adalah rangkaian pesta yang meriah dan janji-janji yang mudah; sebuah gelembung yang kubangun sendiri, anti-goncangan. Aku menikmati kemudahan itu, tanpa menyadari betapa rapuhnya fondasi yang kupijak.

Namun, semesta punya rencana yang lebih brutal dan mendesak. Sebuah surat wasiat yang tak terduga mendarat di tanganku, mewariskan bukan harta melimpah, melainkan sebuah yayasan kecil di pelosok Jawa Barat, yang kini berada di ambang kehancuran. Yayasan itu adalah warisan dari mendiang Kakek yang bahkan tak pernah kukenal dekat.

Aku tiba di sana dengan sepatu hak tinggi dan koper penuh pakaian desainer, merasa seperti turis yang tersesat di tengah hutan. Tempat itu jauh dari kata glamor; dindingnya mengelupas, atapnya bocor, dan tatapan warga desa padaku penuh dengan skeptisisme. Mereka melihatku sebagai anak manja yang hanya akan lari setelah seminggu, dan jujur, aku hampir melakukannya.

Malam-malam pertamaku di sana dihabiskan dengan menangis dan merindukan bisingnya kota. Aku harus menghadapi kenyataan pahit bahwa saldo bank yayasan hampir nol dan aku harus mencari cara untuk menghidupi belasan anak yatim piatu di sana. Ini bukan lagi tentang memilih restoran terbaik, ini tentang memastikan ada beras di dapur besok pagi.

Di tengah keputusasaan, aku bertemu Ibu Kartini, seorang pengajar paruh baya yang mata tuanya menyimpan kebijaksanaan tak terhingga. Ia tidak memberiku uang, tapi memberiku perspektif. Ia mengajarkanku bahwa masalah besar tidak diselesaikan dengan uang cepat, melainkan dengan ketekunan yang lambat dan membangun kepercayaan dari hati ke hati.

Di sanalah aku mulai membaca lembar demi lembar kisah yang tak pernah diajarkan di universitas: Novel kehidupan yang ditulis oleh tangan-tangan yang keras bekerja dan hati yang sabar. Aku belajar menambal atap, bernegosiasi dengan pemasok beras, dan yang paling sulit, menelan egoku saat dikritik oleh penduduk desa.

Secara perlahan, aku menanggalkan identitasku yang lama. Gaun mahal diganti kaus lusuh, dan ponselku lebih sering digunakan untuk mencari donatur daripada mengunggah swafoto. Pengorbanan itu terasa menyakitkan pada awalnya, tetapi setiap tetes keringat yang jatuh terasa seperti pupuk yang menyuburkan jiwaku yang tandus.

Aku bukan lagi Risa yang hanya tahu cara menghabiskan. Aku kini Risa yang tahu cara memberi, yang tahu bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa jauh kita bisa lari dari masalah, tetapi seberapa teguh kita berdiri di tengah badai. Mataku kini melihat lebih dalam, tidak hanya permukaan yang berkilauan.

Ketika fajar menyingsing di atas bukit desa, aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah hadiah yang diberikan waktu, melainkan harga yang harus dibayar melalui kehilangan dan perjuangan. Pertanyaannya sekarang, setelah semua ini, apakah aku mampu kembali ke kehidupan lamaku, ataukah jiwaku sudah terikat selamanya pada tanah yang menempa diriku ini?