Gemericik hujan di balik jendela seolah memanggil memori lama yang sempat terkubur dalam-dalam. Aku teringat saat ego masih menjadi nahkoda utama dalam setiap langkah yang kuambil tanpa arah pasti.

Suatu hari, badai besar menghantam pondasi keyakinanku hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa sedikit pun. Kegagalan telak itu memaksaku untuk berhenti berlari dan mulai menatap cermin kenyataan yang sangat pahit.

Ternyata, menjadi dewasa bukanlah tentang berapa banyak angka yang bertambah pada usia biologis kita setiap saat. Kedewasaan adalah tentang bagaimana kita mampu merangkul luka tanpa harus menyalahkan keadaan atau orang lain.

Dalam setiap babak yang kulewati, aku merasa sedang menulis lembaran baru dalam sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Setiap air mata yang jatuh menjadi tinta yang mempertegas karakter pribadiku agar semakin kuat dan tangguh.

Aku mulai belajar mendengarkan suara hati kecil yang selama ini terabaikan oleh hiruk-pikuk ambisi duniawi yang semu. Kesunyian tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi ruang diskusi paling jujur antara aku dan jiwaku sendiri.

Teman-teman lama mungkin melihatku sebagai pribadi yang berbeda, namun bagiku, ini adalah versi diriku yang paling jujur. Aku tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada dunia, karena kedamaian batin jauh lebih berharga.

Luka-luka masa lalu kini telah mengering dan meninggalkan bekas yang justru menjadi pengingat akan kekuatan yang pernah kupunya. Aku bersyukur atas setiap kerikil tajam yang pernah melukai kaki ini di sepanjang jalan setapak.

Langit sore yang jingga kini tampak lebih bermakna, mengajarkan bahwa keindahan seringkali muncul tepat sebelum kegelapan datang menyapa. Aku telah siap menghadapi apa pun yang ada di depan dengan kepala tegak dan hati yang lapang.

Namun, apakah kedewasaan ini adalah tujuan akhir, ataukah sekadar awal dari ujian yang jauh lebih besar lagi di masa depan? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara aku terus melangkah dengan sejuta harapan yang baru saja tumbuh.