Risa adalah seorang pemimpi, gadis yang selalu menganggap hidupnya seperti halaman yang belum terjamah, penuh janji tanpa beban. Ia terbiasa menjadi pemeran pendukung dalam drama keluarga yang damai, hanya fokus pada buku-buku fantasi yang ia cintai. Ia tak pernah benar-benar memahami arti kata ‘tanggung jawab’ hingga suatu pagi tiba, membawa berita yang mengguncang fondasi dunianya.
Ayah jatuh sakit mendadak, dan Ibu harus mendampingi perawatan di kota lain yang jauh. Toko buku kecil, warisan berharga keluarga yang menjadi sumber penghidupan, kini berada sepenuhnya di tangannya. Dari sekadar membaca sinopsis dan menata rak, Risa tiba-tiba harus menghadapi tumpukan kuitansi, menghitung laba rugi, dan yang paling menakutkan, menghadapi penagih utang.
Malam-malam pertamanya diisi dengan air mata dan rasa panik yang mencekik. Ia merasa gagal total; buku-buku yang dicintainya kini terasa seperti beban berat di punggungnya yang ringkih. Semangatnya merosot drastis, hampir menyerah pada kekacauan angka-angka yang terasa seperti bahasa asing.
Ia mencoba menjual beberapa koleksi pribadinya demi menutupi defisit, sebuah keputusan yang terasa menyakitkan seperti mencabut bagian dari jiwanya. Rasa malu dan takut menjadi teman tidurnya, membuatnya mempertanyakan apakah ia benar-benar memiliki kapasitas untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari bisnis keluarga ini.
Di tengah keputusasaannya, muncul Pak Haris, pelanggan setia yang juga seorang pensiunan akuntan. Ia tidak memberi solusi instan, melainkan menanyakan pertanyaan sulit. “Risa, apakah kamu akan membiarkan bab ini berakhir tanpa perlawanan, atau kamu akan menuliskan jalan keluar yang heroik?” Risa mulai belajar. Ia merangkak dari kebodohan finansial menuju pemahaman mendasar tentang operasional bisnis. Setiap kegagalan kecil kini tidak lagi dianggapnya sebagai akhir dari cerita, melainkan sebagai revisi draf yang harus diperbaiki.
Proses ini adalah pendewasaan yang brutal namun indah, sebuah metamorfosis yang menguras energi. Ia menyadari bahwa skenario terburuk sekalipun hanyalah bagian dari alur yang harus dilalui. Inilah esensi sejati dari *Novel kehidupan*, di mana kita adalah penulis, editor, dan tokoh utamanya.
Beberapa bulan berlalu, dan toko itu masih berdiri, bahkan dengan penataan baru yang lebih efisien. Risa tidak lagi takut pada telepon berdering atau tumpukan tagihan; ia menyambutnya dengan ketenangan seorang manajer yang berpengalaman. Ia berhasil, bukan karena keajaiban, melainkan karena ketahanan yang ia paksa untuk tumbuh.
Ia melihat ke cermin. Sorot matanya berbeda; ada kelelahan yang jujur, tapi juga ketajaman yang belum pernah ada sebelumnya. Kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa sering kita memilih untuk berdiri tegak setelah terjatuh. Pelajaran terpenting yang ia dapat: terkadang, untuk menemukan peta diri kita yang sebenarnya, kita harus tersesat dalam badai yang paling gelap.