Hujan sore itu seolah sengaja membasuh sisa-sisa kesombongan yang pernah kupelihara erat di dalam dada. Aku berdiri di depan pintu yang tertutup rapat, menyadari bahwa duniaku tak lagi sama seperti saat matahari masih benderang tadi pagi.
Kehilangan bukan sekadar tentang kepergian seseorang, melainkan tentang bagaimana kita dipaksa berdiri di atas kaki sendiri secara tiba-tiba. Ayah pergi tanpa sempat menitipkan pesan terakhir, meninggalkanku dengan tumpukan tanggung jawab yang terasa amat berat untuk kupikul.
Awalnya aku memberontak pada takdir dan menyalahkan semesta atas segala ketidakadilan yang menimpa hidupku. Namun, air mata ternyata tak mampu membayar tagihan yang menumpuk atau mengisi kekosongan di atas meja makan yang kini terasa sunyi.
Setiap pagi kini dimulai dengan peluh dan doa yang paling lirih di sudut kamar yang sempit. Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukan tentang angka usia, melainkan tentang keberanian mengambil beban yang sebenarnya tidak pernah kita inginkan.
Perjalananku ini terasa seperti sebuah Novel kehidupan yang setiap babnya ditulis dengan tinta air mata dan keteguhan hati. Tak ada plot yang mudah dalam naskah ini, namun setiap konflik menuntunku pada pemahaman diri yang jauh lebih dalam.
Dulu aku hanya peduli pada mimpi-mimpi besar tanpa mau melihat kerikil tajam yang ada di bawah kaki. Sekarang, aku belajar menghargai setiap napas dan senyuman kecil dari ibu yang kini menjadi pusat dari seluruh duniaku.
Luka-luka lama perlahan mengering, meninggalkan bekas permanen yang menjadi pengingat akan seberapa jauh aku telah melangkah. Kedewasaan ternyata adalah sebuah seni memaafkan diri sendiri atas segala kegagalan dan kenaifan di masa lalu.
Aku menatap langit malam yang mulai cerah, menyadari bahwa badai tak datang untuk menghancurkan, melainkan untuk membersihkan jalan bagi mereka yang bertahan. Namun, apakah aku benar-benar sudah cukup kuat untuk menghadapi babak baru yang mungkin jauh lebih menantang esok hari?