PORTAL7.CO.ID - Akademi sepak bola Real Madrid, yang dikenal dengan nama La Fabrica, telah lama menjadi sarang lahirnya talenta-talenta kelas dunia. Sejumlah nama besar seperti Iker Casillas dan Raul Gonzalez lahir dari sistem pembinaan yang ketat ini.

Namun, tidak semua pemain muda yang menjanjikan mampu mempertahankan momentum kejayaan mereka hingga mencapai tim utama Los Blancos. Banyak dari mereka yang sempat diprediksi menjadi tumpuan masa depan justru meredup sebelum sempat bersinar terang.

Dilansir dari Bola, beberapa pemain yang digadang-gadang memiliki potensi besar akhirnya harus melupakan mimpi mereka untuk menjadi bintang di Santiago Bernabeu. Mereka tersisih karena performa yang tidak konsisten atau harus berpindah klub demi mencari kepastian karier.

Salah satu kisah yang paling diingat adalah Royston Drenthe, yang didatangkan dari Feyenoord pada usia 20 tahun. Pemain asal Belanda ini gagal memenuhi ekspektasi tinggi yang diletakkan padanya selama masa baktinya di Madrid.

Drenthe tercatat hanya mampu mengemas 65 penampilan untuk tim utama sebelum akhirnya memulai perjalanan panjang berpindah klub. Kariernya kemudian membawanya melintasi 12 klub berbeda di benua Eropa dan Asia tanpa pernah menemukan stabilitas.

"Drenthe dinilai jauh dari harapan dan tidak memuaskan. Penampilannya mendapat cercaan dari para penggemar sendiri serta disebut sebagai pemain terburuk yang pernah dibeli Real Madrid," mengutip salah satu penilaian publik terhadap performanya saat itu (AFP/Javier Soriano).

Kisah serupa dialami oleh gelandang Omar Mascarell, yang melakukan debutnya di bawah asuhan Jose Mourinho pada tahun 2013. Ia beberapa kali dipinjamkan ke berbagai tim sebelum akhirnya berlabuh di Elche yang saat itu harus terdegradasi.

Talenta Belanda lainnya, Mink Peeters, sempat mendapatkan kontrak profesional berdurasi tiga tahun di Madrid, namun tak kunjung mampu menembus tim utama. Ia terakhir tercatat berstatus tanpa klub setelah meninggalkan FC Volendam pada tahun 2021.

Philipp Lienhart hanya diberi kesempatan bermain selama 12 menit dalam satu penampilan untuk tim utama sebelum klub memutuskan untuk melegonya ke Freiburg. Sementara itu, Augusto Galvan yang dibeli seharga 3 juta euro kini hanya berjuang di kasta terendah sepak bola Brasil.