PORTAL7.CO.ID - Meski Idulfitri masih terpaut beberapa pekan, geliat bisnis penukaran uang baru mulai terlihat di sudut-sudut Kota Surabaya. Para penyedia jasa ini sudah nampak berjejer di sepanjang Jalan Bubutan hingga Jalan Pahlawan sejak awal bulan Ramadan. Kehadiran mereka menjadi pemandangan rutin tahunan bagi warga Kota Pahlawan yang ingin mempersiapkan uang saku Lebaran lebih awal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, arus transaksi penukaran uang saat ini terpantau masih relatif sepi dari peminat. Mayoritas masyarakat yang melintas hanya sekadar berhenti untuk menanyakan ketersediaan pecahan uang atau tarif jasa yang ditawarkan. Kondisi ini dipicu oleh belum cairnya gaji bulanan maupun Tunjangan Hari Raya (THR) bagi sebagian besar pekerja di wilayah tersebut.
Saiful, seorang penyedia jasa di kawasan tersebut, mengaku telah menggelar lapaknya sejak hari pertama puasa dimulai. Ia menyediakan berbagai pilihan pecahan uang kertas baru, mulai dari denominasi Rp 1.000 hingga Rp 20.000 untuk melayani kebutuhan warga. "Belum ramai, orang masih tanya-tanya saja, kadang ada satu dua orang yang mulai tukar," ungkap Saiful saat ditemui pada Senin (2/3/2026).
Lonjakan permintaan diprediksi baru akan terjadi secara signifikan pada periode sepuluh hari menjelang Lebaran atau memasuki fase H-10. Saiful menjelaskan bahwa pada masa puncak tersebut, pecahan Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp 20.000 menjadi yang paling banyak diburu oleh konsumen. Pecahan-pecahan kecil ini memang sangat lazim digunakan masyarakat untuk tradisi bagi-bagi uang kepada sanak saudara saat hari raya.
Terkait keuntungan, para penyedia jasa ini mematok tarif antara 13 persen hingga 15 persen untuk setiap penukaran senilai Rp 100.000. Artinya, warga yang ingin mendapatkan uang baru senilai Rp 1 juta harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 130.000 sebagai jasa penukaran. "Saya ambil 13 persen per Rp 100 ribu, tapi tergantung orangnya juga karena kadang ada yang masih menawar," tambah Saiful.
Senada dengan Saiful, pedagang lain bernama Aditya mengungkapkan bahwa pendapatan harian saat ini masih terbatas namun tetap cukup untuk kebutuhan pokok. Ia menyebutkan bahwa pasokan uang pecahan baru tersebut diperoleh dari pengepul besar yang mayoritas berdomisili di wilayah Sidoarjo. Pengepul inilah yang kemudian mendistribusikan uang ke para pedagang eceran yang tersebar di sepanjang jalur Bubutan dan Pahlawan.
Para pengepul tersebut biasanya mendapatkan stok uang baru dari sumber resmi perbankan atau layanan penukaran massal milik Bank Indonesia. Margin harga yang ditetapkan oleh pengepul sangat menentukan besaran tarif yang akhirnya dibebankan kepada masyarakat di tingkat pedagang kaki lima. "Kalau dari pengepulnya mahal, ya kita ikut naikkan harga, semua tergantung dari harga di sananya," pungkas Aditya menutup pembicaraan.
Sumber: Infonasional