PORTAL7.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan kepastian bahwa alokasi dana untuk inisiatif strategis nasional, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG), akan tetap terjaga utuh. Komitmen ini disampaikan seraya pemerintah mengambil langkah efisiensi fiskal yang ketat.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah melakukan eliminasi terhadap berbagai pos pengeluaran yang dianggap tidak memberikan nilai produktif bagi perekonomian negara. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas anggaran secara keseluruhan.

Dilansir dari Money, Purbaya Yudhi Sadewa mencontohkan jenis pengeluaran yang menjadi sasaran pemangkasan, yakni pembelian aset yang diajukan secara berulang tanpa kebutuhan mendesak. Hal ini menunjukkan adanya peninjauan ketat terhadap belanja operasional kementerian.

"MBG enggak akan dipotong kecuali yang tidak produktif. Itu bagaimana? Kita lihat saja. Kalau dia ngajuin beli motor lagi, coret. Beli komputer lagi, coret. (Kebutuhan) yang enggak perlu, yang enggak berhubungan dengan makanan," kata Purbaya Yudhi Sadewa usai melakukan inspeksi di Pasar Tanah Abang pada Senin (9/3/2026).

Pemerintah menegaskan komitmen kuat untuk memastikan bahwa pelaksanaan program MBG dapat berjalan efektif sesuai rencana yang telah ditetapkan. Penyesuaian anggaran dilakukan demi menjaga defisit agar tetap berada di bawah batas konstitusional yang ditetapkan.

Patokan utama yang dijaga pemerintah adalah defisit anggaran harus dipertahankan maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Untuk mencapai target ini, evaluasi menyeluruh terhadap pos pengeluaran pendukung menjadi krusial.

Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa fasilitas tambahan yang tidak secara langsung menunjang penyediaan makanan bagi penerima program menjadi prioritas utama untuk ditinjau ulang. Tujuannya adalah mencapai efisiensi fiskal tanpa mengorbankan program prioritas.

Sementara itu, pasar energi global tengah menghadapi tekanan hebat yang signifikan sejak perdagangan hari Senin (9/3/2026). Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran akan potensi hambatan distribusi komoditas vital melalui jalur laut strategis, khususnya Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.