PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi memulai proyek besar penataan kawasan ikonik Gedung Sate di Kota Bandung pada Rabu (15/4/2026). Langkah awal pengerjaan fisik ini ditandai dengan pembongkaran area halaman depan guna mengintegrasikannya dengan Lapangan Gasibu sebagai ruang terbuka publik yang lebih representatif.

Proses konstruksi di lapangan diawali dengan pengangkatan paving blok menggunakan alat berat, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Saat ini, sepanjang sisi Jalan Diponegoro telah dipagari dengan besi dan papan putih guna memastikan keamanan serta kelancaran aktivitas pembangunan di area seluas lebih dari 14 ribu meter persegi tersebut.

Proyek ambisius ini menelan anggaran sebesar Rp15,82 miliar dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada Agustus 2026 mendatang. Rencana penataan ini akan mengubah wajah halaman depan Gedung Sate menjadi ruang terbuka simetris yang menyatu harmonis dengan Lapangan Gasibu tanpa adanya pembatas fisik jalan yang kaku.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan bahwa urgensi dari penyatuan dua kawasan ini adalah untuk memperbaiki aksesibilitas di pusat pemerintahan. Menurutnya, skema baru ini dirancang untuk mengakomodasi dinamika sosial masyarakat Bandung yang sangat aktif.

"Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan? Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate-nya terbangun dengan baik. Saya begini deh, bayangin, bagaimanapun era demokratisasi melahirkan demonstrasi," ujar Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi menyoroti persoalan klasik kemacetan yang kerap terjadi saat adanya aksi massa di depan Gedung Sate. Penutupan Jalan Diponegoro selama unjuk rasa sering kali memicu penumpukan kendaraan yang parah di berbagai titik lain di Kota Bandung.

"Nah, setiap terjadi unjuk rasa itu Jalan Diponegoro ditutup. Akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah," kata Dedi Mulyadi.

Melalui penataan ini, pola arus lalu lintas akan diubah menjadi sistem melingkar sehingga kendaraan tetap dapat melintas meski sedang ada aktivitas di halaman gedung. Skema infrastruktur permanen ini menjamin Jalan Diponegoro tidak perlu lagi ditutup secara total saat ada kegiatan besar atau penyampaian aspirasi.

"Sehingga nanti ke depan tidak akan pernah itu terjadi, karena Jalan Diponegoro-nya tetap terbuka, tidak akan terganggu oleh berbagai kegiatan di halaman Gedung Sate," tegas Dedi Mulyadi.