PORTAL7.CO.ID - PT Agrinas Pangan Nusantara memicu perdebatan hangat usai mengumumkan rencana impor besar-besaran sebanyak 105.000 unit kendaraan niaga dari India. Langkah strategis ini diambil untuk menyokong operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang menjadi program unggulan pemerintah. Meski demikian, kebijakan tersebut langsung mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pemangku kepentingan industri otomotif nasional.
Rencana pengadaan ini melibatkan dua raksasa otomotif asal India, yakni Mahindra & Mahindra Ltd serta Tata Motors. Mahindra dijadwalkan memasok 35.000 unit pikap Scorpio 4x4, sementara 70.000 unit sisanya akan didatangkan dari lini produksi Tata Motors. Kerja sama lintas negara ini diharapkan mampu memperkuat sistem logistik di wilayah pedesaan dan kelurahan di seluruh Indonesia.
CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, menyatakan antusiasmenya terhadap kemitraan strategis dengan perusahaan pelat merah tersebut. Ia mengungkapkan kesiapan pihaknya dalam mendukung penguatan koperasi di Indonesia melalui penyediaan armada kendaraan yang tangguh. Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi pada Jumat (20/2/2026) sebagai bentuk komitmen terhadap proyek Agrinas Pangan Nusantara.
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan kegelisahan mendalam atas keputusan impor kendaraan dalam jumlah fantastis ini. Organisasi tersebut menilai kebijakan ini berpotensi memberikan tekanan berat bagi pertumbuhan industri otomotif di dalam negeri. Gaikindo khawatir ketergantungan pada produk impor justru akan melemahkan ekosistem manufaktur lokal yang sedang berkembang.
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa produsen kendaraan nasional sebenarnya memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ia berpendapat bahwa anggota Gaikindo mampu menyediakan jenis armada yang dibutuhkan oleh Koperasi Desa tanpa harus mengandalkan pasokan dari luar negeri. Menurutnya, pemanfaatan produk lokal seharusnya menjadi prioritas utama demi mendukung kemandirian industri nasional.
Meskipun menuai polemik, Agrinas berdalih bahwa langkah impor ini merupakan upaya efisiensi anggaran yang sangat signifikan bagi negara. Perusahaan mengklaim bahwa skema pengadaan armada dari India ini mampu menghemat anggaran hingga mencapai Rp46 triliun. Angka tersebut menjadi alasan kuat bagi perusahaan untuk tetap melanjutkan rencana pengadaan kendaraan niaga guna mempercepat distribusi logistik pangan.
Kini publik menanti bagaimana pemerintah akan menyeimbangkan antara efisiensi anggaran dan perlindungan terhadap industri otomotif domestik. Tantangan besar berada pada integrasi program Koperasi Desa agar tidak mengorbankan keberlangsungan produsen kendaraan di tanah air. Harmonisasi kebijakan antara sektor logistik pangan dan industri manufaktur menjadi kunci utama dalam menyelesaikan kontroversi ini.
Sumber: Infonasional