PORTAL7.CO.ID - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, melontarkan kecaman keras terhadap mencuatnya kasus dugaan kekerasan fisik serta pelecehan seksual di lingkungan pelatnas panjat tebing. Kabar memilukan ini mencoreng dunia olahraga nasional di saat para atlet tengah berjuang mengharumkan nama bangsa. Erick menegaskan bahwa martabat serta keselamatan para atlet merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar oleh pihak manapun.
Berdasarkan data terbaru dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), jumlah korban yang melaporkan tindakan keji tersebut kini bertambah dari delapan menjadi sepuluh orang. Peningkatan angka ini menunjukkan adanya keberanian dari para penyintas untuk mulai bersuara terkait praktik menyimpang di pusat pelatihan. Menpora menyayangkan kejadian ini terjadi di tempat yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi talenta terbaik tanah air. “Keselamatan, martabat, dan masa depan atlet adalah prioritas utama,” tegas Erick Thohir dalam pernyataan resminya pada Senin (2/3/2026). Ia menekankan bahwa tidak ada ruang sedikit pun bagi pelaku kekerasan seksual untuk bersembunyi dalam struktur olahraga Indonesia. Erick juga menjamin bahwa kementerian akan menerapkan prinsip zero tolerance terhadap segala bentuk pelecehan maupun intimidasi fisik.
Pemerintah berkomitmen memberikan perlindungan menyeluruh kepada para pelapor, mulai dari kerahasiaan identitas hingga jaminan kelangsungan karier profesional mereka. Erick Thohir memastikan negara akan berdiri di pihak korban agar mereka terhindar dari tekanan atau ancaman pihak-pihak tertentu. Langkah ini diambil untuk memberikan rasa aman bagi para atlet agar tetap fokus pada pengembangan prestasi mereka ke depan.
Selain perlindungan fisik dan karier, Menpora juga mendorong adanya pendampingan hukum serta layanan psikologis jangka panjang bagi sepuluh atlet tersebut. Pemulihan trauma menjadi fokus krusial agar dampak mental dari kekerasan yang dialami tidak menghancurkan masa depan para pemuda berbakat ini. “Kami juga mendorong agar pendampingan hukum dan psikologis jangka panjang dapat diberikan untuk menjaga masa depan para korban,” ujar Erick.
Kasus ini dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pembinaan di seluruh pemusatan latihan nasional. Menpora berencana memperkuat mekanisme pengawasan serta membangun sistem pelaporan yang lebih aman, rahasia, dan transparan bagi seluruh cabang olahraga. Reformasi tata kelola perlindungan atlet menjadi agenda mendesak agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di masa mendatang.
Menpora Erick Thohir mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengawal penuntasan kasus ini hingga ke akar-akarnya demi kebersihan dunia olahraga. Ia berharap penyelesaian masalah ini menjadi titik balik bagi terciptanya lingkungan olahraga yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. “Kita harus memastikan olahraga Indonesia bersih, aman, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” pungkasnya menutup pernyataan tersebut.
Sumber: Infonasional