PORTAL7.CO.ID - Apa (What): Langkah klub raksasa Jerman, Bayern Munich, dalam kompetisi Liga Champions harus terhenti secara dramatis di babak semifinal musim ini. Mereka gagal melaju ke partai puncak setelah tersingkir oleh Paris Saint-Germain (PSG).

Kapan (When): Momen penentuan ini terjadi pada leg kedua semifinal yang dilangsungkan pada Kamis (7/5/2026) dini hari WIB. Hasil imbang 1-1 pada laga kandang tersebut tidak cukup untuk membalikkan keadaan dari kekalahan di leg pertama.

Di Mana (Where): Pertandingan krusial penentu nasib kedua tim tersebut digelar di markas kebanggaan Bayern Munich, Allianz Arena. Stadion ini menjadi saksi bisu kegagalan Die Roten meraih tiket final.

Siapa (Who): Bayern Munich yang diasuh oleh Thomas Tuchel harus menghadapi ketangguhan Paris Saint-Germain. Kapten sekaligus penjaga gawang Bayern, Manuel Neuer, menjadi salah satu figur sentral dalam evaluasi pasca pertandingan.

Bagaimana (How): Bayern Munich harus tersingkir dengan agregat skor akhir 5-6, menyusul kekalahan tipis 4-5 pada pertemuan pertama. Pada leg kedua, mereka sempat tertinggal cepat sebelum akhirnya menyamakan kedudukan di penghujung laga.

Gawang tuan rumah kebobolan sangat cepat, baru tiga menit pertandingan berjalan, melalui aksi penyerang PSG, Ousmane Dembele. Situasi ini memaksa Bayern Munich meningkatkan intensitas serangan untuk mengejar defisit gol demi menjaga asa lolos ke final.

Skuad asuhan Thomas Tuchel tercatat melakukan total 15 upaya tembakan ke arah gawang lawan, di mana tujuh di antaranya berhasil mengarah tepat sasaran. Namun, gol penyeimbang yang dicetak hanya terjadi pada masa injury time babak kedua, yang sudah terlambat untuk memaksakan babak tambahan waktu.

Manuel Neuer menyoroti kurangnya ketajaman lini depan timnya dalam memanfaatkan peluang emas yang tercipta selama pertandingan krusial tersebut. "Menurut saya kami tak punya insting membunuh saat menyerang hari ini, tapi pada akhirnya kami punya peluang-peluang untuk menang," ujar Manuel Neuer, Kapten Bayern Munich.

Kiper veteran tersebut kemudian membandingkan efektivitas penyelesaian akhir antara timnya dengan performa lawan di leg pertama. Menurutnya, ketidakmampuan menuntaskan peluang menjadi pembeda utama antara tiket final dan eliminasi.