Bogor, MAHATVA.ID – Media sosial dalam beberapa waktu terakhir diramaikan perseteruan panas antara netizen dan netizen dari berbagai negara . Perdebatan yang awalnya bermula dari isu etika fandom dalam sebuah acara musik berkembang cepat menjadi konflik lintas negara yang sarat muatan emosional dan identitas kolektif.
Dalam hitungan jam, diskusi yang semula bersifat teknis berubah menjadi perang narasi, meme, hingga saling hujat yang menyasar fisik, kondisi ekonomi, dan stereotip budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik digital tidak lagi sekadar fanwar, melainkan telah bertransformasi menjadi konflik berbasis identitas.
Ketika percakapan di media sosial tidak lagi membahas individu, melainkan berubah menjadi dikotomi “kami” versus “mereka”, konflik telah memasuki ranah identity-based conflict. Identitas nasional dan regional menjadi simbol yang dipertaruhkan, memicu solidaritas kolektif di kalangan netizen Asia Tenggara yang kemudian dikenal dengan istilah SEAblings.