PORTAL7.CO.ID - Fenomena video pendek yang viral di lingkungan sekolah kini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Potongan durasi singkat tersebut sering kali memicu opini publik yang masif tanpa melihat gambaran utuh dari peristiwa yang terjadi.
Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai ketimpangan antara apa yang tersaji di media sosial dengan realitas proses belajar mengajar yang sesungguhnya. Perkembangan isu ini menjadi perhatian serius bagi para praktisi pendidikan, sebagaimana dilansir dari Jabaronline.
Salah satu tokoh pendidikan yang memberikan perhatian mendalam terhadap masalah ini adalah Dra. Sitti Dahlia Azis. Beliau merupakan seorang Guru Pendidikan Pancasila yang saat ini bertugas di SMAN 3 Pinrang.
"Masyarakat perlu mengedepankan sikap hati-hati dan tidak terburu-buru dalam menyikapi setiap informasi yang beredar luas di ruang publik," ujar Dra. Sitti Dahlia Azis.
Reaksi keras dari masyarakat sering kali muncul secara spontan segera setelah sebuah video diunggah ke platform digital. Hal ini berdampak pada citra institusi pendidikan yang bisa saja tercoreng akibat kesalahpahaman informasi yang tersebar.
"Setiap kejadian yang berlangsung di lingkungan sekolah sebenarnya merupakan hasil dari sebuah rangkaian interaksi yang panjang dan kompleks," kata Dra. Sitti Dahlia Azis.
Proses pendidikan melibatkan banyak variabel, mulai dari pembentukan karakter hingga interaksi sosial yang dinamis antara guru dan murid. Oleh karena itu, sebuah cuplikan video tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kualitas sebuah sekolah.
Para pendidik kini diharapkan lebih waspada dan proaktif dalam memberikan edukasi literasi digital kepada para siswa. Langkah ini diambil guna meminimalisir penyebaran konten yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu di masa depan.
Upaya menjaga marwah institusi pendidikan memerlukan kerja sama yang baik antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat umum. Dengan memahami konteks secara mendalam, diharapkan tidak ada lagi penghakiman sepihak terhadap dunia pendidikan melalui media sosial.