Kota Serang - Penggunaan gawai khususnya media sosial bagi anak, kini tengah menjadi isu pembahasan nasional. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah dan berbagai stakeholder, dimana perkembangan teknologi digital begitu pesat, namun tingkat literasi digital di Indonesia belum cukup baik. Hal ini yang menjadi semangat dan tantangan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten sebagai mitra pemerintah untuk terus mengedukasi masyarakat di berbagai jenjang usia. Bertempat di Komplek Ciceri Permai Kota Serang, Relawan TIK Provinsi Banten hadir memenuhi undangan salah satu perusahaan media untuk berbagi edukasi literasi digital kepada anak-anak Yatim dalam acara Santunan Anak Yatim bertajuk "Indahnya Berbagi di Bulan Penuh Berkah", Senin (24/03).
Dengan tema "Edukasi Penggunaan Gawai dan Ruang Digital bagi Anak", Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin diberikan kesempatan dalam kegiatan Santunan Anak Yatim tersebut, berbagi bagaimana seharusnya penggunaan gawai bagi anak di masa kini.
Taufiq menjelaskan bahwa batas usia yang diijinkan menggunakan gawai di Indonesia menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) adalah 13 tahun. Pada usia ini, anak dianggap sudah memiliki kemampuan analisis, pengendalian diri, dan berpikir logis yang cukup matang untuk menggunakan gawai dengan bijak. Sedangkan batas waktunya secara rinci sebagai berikut:
- Anak di bawah 2 tahun: tidak disarankan menggunakan gawai, kecuali dalam keadaan darurat dan dengan pengawasan orang tua.
- Anak usia 2-5 tahun: dapat menggunakan gawai selama 1 jam sehari dengan pengawasan orang tua.
- Anak usia di atas 5 tahun: dapat menggunakan gawai selama 1,5 jam sehari dengan pengawasan orang tua.
"Ya seharusnya di atas 13 tahun baru boleh ya, seperti halnya berbagai platform medsos mensyaratkan usia tersebut. Tapi ya sekarang seolah tak dapat terhindarkan. Jadi kami berupaya secara hati-hati bagaimana penggunaan gawai ini agar menjadi perhatian orang tua, untuk meminimalisir dampak negatifnya," ungkap Taufiq.
Taufiq melanjutkan bahwa edukasi literasi digital ini merujuk kepada 4 pilar literasi digital, yakni kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, dan etika digital. Kalau dalam sesi edukasi pelajar dan dewasa bisa diselenggarakan dalam seminar sehari, namun secara sederhana Taufiq merumuskannya dalam konsep yang disingkat "Bawa Buku MTK".
"Jadi adik-adik, Kak Taufiq mau memberi oleh-oleh untuk diingat selalu kalau pakai gadgetnya, yakni "BAWA BUKU MTK! Apa itu? BA, Batasan Waktu dan tempat ditaati. Dimana dan kapan boleh pake HP itu harus ada batasnya ya. Di toilet boleh main HP? Enggak baik lah ya. Saat makan malam bersama keluarga boleh asyik sendiri main HP? Tentu tidak sopan. Lalu WA, Waspada dengan orang yang baru kenal di media sosial. Nah udah banyak banget berita ada anak SMP yang hilang 1-2 hari. Eh, ternyata ketemu teman yang baru dikenalnya di Facebook. Belum lagi kasus pornografi anak semakin meningkat, pedofilia semakin merajalela, bahkan video pornografi anak itu dijual dengan harga tinggi di luar negeri. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Adik-adik, mohon berhati-hati ya," ungkap Taufiq.
Taufiq melanjutkan, BUKU kepanjangan dari "Buat kesepakatan anak dengan orang tua" dan "Kuhanya dipinjamkan gawai ya, belum memiliki". Artinya orang tua dan anak perlu membuat kesepakatan dalam penggunaan gawai, mana yang boleh dan tidak boleh, serta bila perlu dipasang aplikasi kontrol orang tua pada kedua perangkat. Secara sadar anak tahu diawasi oleh orang tuanya, mau dievaluasi, dan siap menerima reward (hadiah) dan punishment (hukuman).
"Nah yang terakhir MTK! M, Matanya dijaga, jangan lihat layar sambil rebahan, apalagi gelap-gelapan. Inilah yang membuat saat ini anak-anak sudah banyak yang menggunakan kacamata karena menderita mata minus atau silindris. T, Tidak sembarang klik. Kini banyak sebaran tautan atau manipulasi-manipulasi yang meminta kita untuk mengklik sesuatu. Kita harus ingat untuk tidak sembarang klik ya. Tanyakan kepada rekan, orang tua atau para ahli. Berhati-hati dengan apapun yang dikirim apalagi dari kontak yang tidak kita kenal. Yang terakhir K, Kontennya harus kreatif, edukatif, positif dan optimis, disingkat KEPO. Hehe, KEPO di sini bermakna baik ya. Artinya dalam menyimak konten di media social atau dalam membuat karya konten, mohon diperhatikan hal tersebut. Jangan sampai kita terpapar konten yang negatif dan kurang bermanfaat," tutup Taufiq.
Di tengah paparan, Taufiq memantik diskusi dengan bertanya apa kesenangan anak-anak dengan dunia HP. Salah seorang anak, Rifat (11 tahun) mengungkapkan kesenangannya pada gim yang banyak digandrungi anak-anak saat ini. Ia menyampaikan selalu diingatkan ibunya untuk tahu batasannya. Ia pun bercita-cita bisa membantu orang tuanya dengan mendapatkan uang dari permainan gim tersebut. Rifat mengaku tidak sampai lupa Waktu atau begadang karenanya, Taufiq pun mengingatkan hal tersebut, untuk memanfaatkan segala teknologi digital secara positif serta jangan lupa belajar.