Awalnya, aku datang dengan ransel penuh mimpi dan keyakinan bodoh bahwa kota ini akan menyambutku dengan karpet merah. Aku melihat gedung-gedung tinggi sebagai janji, bukan tantangan yang siap menghancurkan. Senyumku saat itu adalah senyum seorang anak muda yang belum pernah merasakan dinginnya kekecewaan.
Kenyataan menamparku keras saat proyek pertama yang kuharapkan menjadi batu loncatan justru runtuh, membawa serta seluruh tabunganku. Kepercayaan yang kuberikan pada rekan kerja ternyata hanyalah ilusi yang dibungkus janji manis. Aku terdampar, sendirian di kamar kos sempit, dengan sisa uang yang hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.
Malam-malam sunyi menjadi teman akrabku, di mana suara klakson jalanan terasa seperti ejekan atas kegagalanku. Aku sempat berpikir untuk menyerah, kembali ke kampung halaman dan berpura-pura bahwa petualangan ini tak pernah terjadi. Rasa malu membakar ubun-ubun, jauh lebih menyakitkan daripada perut yang kosong.
Namun, di titik terendah itu, sebuah suara pelan berbisik bahwa melarikan diri bukanlah solusi; itu hanya menunda babak pendewasaan. Aku mulai menjual barang-barang yang tidak penting, mengambil pekerjaan serabutan apa pun yang bisa kudapatkan tanpa memandang gengsi. Saat itulah aku menyadari bahwa kekuatan sejati tidak datang dari keberuntungan, melainkan dari ketidakmauan untuk hancur.
Proses bangkit itu lambat, penuh luka, dan tidak heroik sama sekali. Aku belajar mengelola rasa sakit, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk terus melangkah maju, bahkan hanya satu inci sehari. Setiap penolakan dan kegagalan kecil kini tidak lagi terasa seperti akhir dunia, melainkan hanya koreksi arah yang diperlukan.
Kedewasaan ternyata bukan tentang usia yang bertambah, melainkan tentang kemampuan menerima bahwa aku bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi. Aku mulai melihat segala peristiwa, baik buruk maupun baik, sebagai lembaran penting dalam **Novel kehidupan** yang sedang kutulis. Setiap air mata yang tumpah adalah tinta yang memperkuat alur cerita ini.
Ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat sosok yang rapuh itu telah berganti kulit menjadi seseorang yang lebih tenang dan tegar. Aku tidak lagi takut pada badai, sebab aku tahu bagaimana cara membangun perahu dari puing-puing yang tersisa. Bekas luka itu kini menjadi peta yang menunjukkan jalur mana yang harus kuhindari.
Sungguh ironis, pengalaman paling pahit dalam hidupku justru menjadi guru terbaik yang pernah kumiliki. Tanpa kegagalan itu, aku mungkin akan tetap menjadi pemuda naif yang terbuai oleh permukaan. Rasa syukur itu kini menyelip di setiap tarikan napas, bersyukur karena sempat dijatuhkan begitu rendah.
Jika ada satu hal yang kupelajari, itu adalah: jangan pernah takut pada kehancuran total, karena sering kali, dari abu itulah versi dirimu yang paling kuat dilahirkan. Kini, aku siap menghadapi babak selanjutnya, tak peduli seberapa tebal dan rumit plot yang menanti di halaman berikutnya.