Panggung adalah satu-satunya rumah yang Arka kenal; di sanalah ia berkuasa, di tengah sorotan lampu dan gemuruh tepuk tangan. Ia yakin betul bahwa takdirnya telah tertulis jelas, sebagai seorang maestro gitar yang akan menaklukkan ibu kota dan segala kemewahannya. Kehidupan terasa seperti melodi cepat yang tak mungkin berhenti, penuh gairah dan ego muda yang tak tersentuh.
Namun, melodi itu tiba-tiba terputus oleh sebuah telegram yang datang di tengah malam yang dingin. Neneknya, pemilik tunggal sebuah kedai kopi tua di kaki gunung yang jauh, telah tiada, meninggalkan warisan berupa bangunan reyot dan tumpukan utang yang tak terduga. Arka, yang tak pernah sekalipun mengurus tagihan listrik, kini harus memikul beban tanggung jawab yang terasa sebesar gunung itu sendiri.
Ketika ia pertama kali membuka pintu kedai "Senja di Sudut Kota," debu tebal dan aroma kopi basi menyambutnya, jauh dari gemerlap panggung yang ia tinggalkan. Ia merasa marah, dirobek dari mimpinya hanya untuk membersihkan sisa-sisa kehidupan orang lain. Selama beberapa minggu pertama, ia hanya duduk, mempertanyakan mengapa takdir sekejam ini memaksanya menjadi orang yang bukan dirinya.
Ia mencoba menjualnya, namun tak ada yang mau membeli bangunan tua yang hampir roboh di lokasi terpencil itu. Keputusasaan mulai merangkulnya, tetapi di tengah keheningan kedai, ia menemukan buku catatan resep Nenek—bukan hanya resep kopi, melainkan juga catatan harian tentang perjuangan dan ketekunan. Di sana ia membaca tentang bagaimana Nenek memulai segalanya dari nol.
Perlahan, Arka mulai menyingsingkan lengan baju, belajar membedakan biji robusta terbaik dari arabika biasa, dan memahami seni menyeduh yang membutuhkan kesabaran. Setiap kegagalan dalam meracik kopi yang sempurna mengajarkannya bahwa kesempurnaan datang dari proses yang berulang, bukan dari bakat instan yang ia banggakan di masa lalu. Ia mulai menyadari bahwa kedewasaan adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah tumpahan terburuk.
Di sinilah, di balik meja bar yang kusam, Arka menemukan babak baru dalam Novel kehidupan yang selama ini ia kira hanya berisi kisah sukses. Ia menyadari bahwa ujian sejati bukanlah saat ia berdiri di puncak, melainkan saat ia harus berjuang di palung paling dalam, mengelola keuangan, dan memastikan setiap pelanggan pulang dengan senyum hangat. Ia belajar mendengarkan, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara.
Pelanggan mulai berdatangan, tertarik oleh perubahan suasana dan, tentu saja, kopi racikan Nenek yang kini ia kuasai. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai musisi gagal, melainkan sebagai penerus yang tulus. Arka tidak lagi memegang gitar dengan keras, tetapi ia memegang cangkir dengan kehati-hatian, memahami bahwa setiap tetes kopi membawa kisah dan harapan.
Tanggung jawab itu tidak merenggut mimpinya, melainkan memberinya fondasi yang kokoh. Musiknya kini terdengar berbeda; lebih dalam, lebih jujur, dan penuh empati terhadap perjuangan manusia. Arka menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang seberapa besar beban yang mampu kita tanggung tanpa membiarkannya menghancurkan semangat kita.
Kini, kedai Senja di Sudut Kota ramai, dan Arka sesekali memainkan melodi lembut di sudut ruangan. Namun, ia tak pernah lagi tergesa-gesa kembali ke gemerlap panggung. Ia telah menemukan panggung yang lebih nyata, yang menuntut konsistensi dan hati yang besar. Apakah ia akan tetap di sana selamanya, ataukah pengalaman ini hanya persiapan untuk babak besar berikutnya?