Dulu, hidupku hanyalah deretan janji yang belum tertepati dan tawa riang di lorong kampus. Aku adalah pemuda yang percaya bahwa masa depan adalah kanvas kosong yang bisa kutorehkan sesuka hati, tanpa beban berarti selain jadwal ujian dan pertemuan sosial. Kedewasaan terasa seperti konsep abstrak yang hanya dimiliki oleh orang-orang tua berwajah lelah.

Namun, semua berubah ketika kabar duka itu datang bersamaan dengan surat wasiat yang tebal. Kakek meninggal dunia, dan aku, cucu tunggal yang paling tidak siap, mendadak diwarisi Loji Kopi ‘Bumi Pertiwi’—sebuah warisan yang lebih mirip liabilitas daripada aset berharga. Tempat itu tua, sepi, dan terbebani hutang yang membuatku ingin lari sejauh mungkin.

Awalnya, aku memberontak. Bagaimana mungkin aku yang terbiasa dengan kafein instan harus bergelut dengan tanah basah, biji kopi yang harus dipetik, dan para pekerja yang memandangku dengan tatapan skeptis? Aku merindukan kebebasan yang telah kurampas dariku, merasa bahwa takdir telah menjebakku dalam peran yang sama sekali tidak kuinginkan.

Setiap pagi yang kulalui di ladang kopi adalah pelajaran pahit yang harus kutelan. Aku belajar bahwa mengelola manusia jauh lebih sulit daripada mengerjakan skripsi, dan bahwa setiap keputusan finansial memiliki konsekuensi nyata bagi banyak keluarga. Tubuhku lelah, pikiranku penuh, dan aku mulai memahami arti sebenarnya dari keringat yang bercampur dengan tanah.

Di tengah kelelahan itu, aku menemukan sebuah realitas baru. Aku menyadari bahwa perjalanan ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku bukan lagi Rendra yang manja, melainkan Rendra yang bertanggung jawab atas warisan, Rendra yang harus memastikan api di tungku tetap menyala demi orang lain.

Aku mulai mengambil langkah-langkah sulit, memotong biaya yang tidak perlu, dan bahkan berhadapan langsung dengan rentenir yang mengancam. Keputusan-keputusan itu menguras emosi, tetapi setiap kesulitan yang berhasil kulewati meninggalkan bekas luka yang justru menguatkan, bukan melemahkan.

Perlahan, aroma kopi yang tadinya terasa asing dan memberatkan, kini mulai terasa menenangkan. Aku tidak lagi melihat Loji Kopi sebagai beban, melainkan sebagai sebuah kapal yang harus kukemudikan melewati badai. Aku belajar bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang tercantum di KTP, melainkan tentang kesediaan kita untuk berdiri tegak saat badai datang.

Aku mulai berdamai dengan takdirku. Ketika biji kopi pertama yang kubudidayakan sendiri akhirnya dipanen, rasanya jauh lebih manis daripada kemenangan akademik mana pun. Kedewasaan ternyata adalah proses pematangan, seperti biji kopi yang harus melalui proses panjang dan panas sebelum menghasilkan rasa terbaik.

Kini, Loji Kopi ‘Bumi Pertiwi’ telah bangkit, namun aku tahu, tantangan berikutnya selalu menanti di balik bukit. Aku tersenyum sambil menyesap kopi hitamku; aku sudah siap. Karena pelajaran terpenting yang kudapat adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar dewasa, kita hanya terus belajar untuk menjadi lebih baik, dan perjalanan itu adalah keindahan yang tak pernah usai.