PORTAL7.CO.ID - Pemerintah memastikan bahwa persiapan krusial untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 akan tetap berjalan sesuai rencana awal, meskipun kondisi geopolitik global saat ini masih menunjukkan ketidakstabilan. Fokus utama dari semua skenario yang telah disusun adalah memastikan aspek mitigasi risiko dan perlindungan maksimal bagi seluruh jemaah yang akan berangkat dari Indonesia.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan jemaah merupakan landasan paling fundamental dalam setiap pengambilan keputusan yang dibuat oleh pemerintah terkait haji tahun depan. Pernyataan ini disampaikan saat acara Bincang Haji Outlook 2026 di Jakarta pada Selasa (31/3/2026).
"Keselamatan dan keamanan jemaah haji menjadi prioritas utama. Karena itu kita melakukan mitigasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi," ujar Irfan, sebagaimana dilansir dari Cahaya.
Koordinasi yang intensif terus dilakukan antara otoritas Indonesia dengan pihak Arab Saudi untuk menjamin kelancaran seluruh rangkaian proses ibadah, terutama mengingat adanya ketidakpastian situasi internasional yang harus dihadapi bersama.
Pemerintah telah merumuskan beberapa langkah antisipasi yang terbagi dalam beberapa skenario operasional. Skenario pertama adalah pemberangkatan dapat berjalan secara normal apabila situasi global dinilai sudah aman hingga mendekati hari keberangkatan jemaah.
Namun, jika kondisi memburuk hingga mencapai status darurat yang membahayakan jemaah, opsi untuk menunda proses keberangkatan akan mulai dipertimbangkan secara serius oleh semua pihak terkait.
"Ada kemungkinan pemberangkatan tidak semua, atau bahkan tidak berangkat sama sekali jika situasi tidak memungkinkan," kata Irfan, menguraikan kemungkinan terburuk.
Skenario lain yang juga dipersiapkan adalah potensi pengalihan rute penerbangan untuk seluruh jemaah apabila jalur udara konvensional dianggap memiliki risiko keamanan yang tinggi. Perubahan rute ini dikhawatirkan akan menambah durasi waktu tempuh perjalanan udara dibandingkan jadwal normal yang telah ditetapkan.
Irfan menambahkan bahwa perubahan rute penerbangan tidak hanya mempengaruhi waktu tempuh, tetapi juga berpotensi meningkatkan tingkat kelelahan jemaah serta memicu penambahan biaya operasional secara keseluruhan.