PORTAL7.CO.ID - Babak semifinal Liga Champions musim ini menghadirkan dua laga besar dengan atmosfer yang sangat kontras bagi para pecinta sepak bola di seluruh dunia. Pertandingan leg pertama tersebut mempertemukan raksasa Prancis PSG dengan Bayern Munich, serta wakil Spanyol Atletico Madrid yang menjamu Arsenal pada April 2026.

Laga antara PSG melawan Bayern Munich berakhir dengan drama sembilan gol yang sangat menghibur melalui skor akhir tipis 5-4. Sementara itu, duel antara Atletico Madrid dan Arsenal di stadion berbeda justru berakhir dengan skor imbang 1-1 yang hanya tercipta melalui dua tendangan penalti.

Thierry Henry, mantan penyerang legendaris yang kini aktif sebagai pengamat sepak bola, memberikan pandangan mendalam mengenai jalannya kedua pertandingan tersebut. Analisis tajam dari pria asal Prancis ini menyoroti bagaimana perbedaan ritme permainan memengaruhi antusiasme para penonton.

"Apa yang kita lihat kemarin PSG vs Bayern, rasanya membuat penggemar terbang ke bulan. Kemudian Atletico vs Arsenal, rasanya penggemar kembali ke Bumi," ujar Thierry Henry sebagaimana dikutip dari Detik Sport.

Henry menilai adanya perbedaan filosofi yang sangat mencolok dalam pendekatan taktik yang diterapkan oleh masing-masing pelatih di lapangan hijau. Ia menyoroti bagaimana satu laga berlangsung sangat dinamis dengan tensi tinggi, sementara laga lainnya terasa lebih statis.

"Ada banyak perbedaan di dua laga itu. Kemarin total football, sekarang hanya football," tegas Thierry Henry saat menjelaskan perbedaan intensitas serangan di kedua pertandingan semifinal tersebut.

Meski terdapat perbedaan skor yang cukup signifikan, Henry mengaku tidak merasa heran dengan jalannya pertandingan yang cenderung monoton di laga Atletico kontra Arsenal. Menurutnya, karakter permainan kedua tim tersebut memang sudah sesuai dengan gaya main masing-masing klub.

"Ada cara-cara old school yang dilakukan Atletico dan Arsenal. Ini sudah sesuai ekspektasi, karena sepak bola adalah soal ekspektasi," ungkap Thierry Henry mengenai gaya bermain kedua klub yang dinilai lebih konvensional.

Ia juga menambahkan catatan kritis mengenai minimnya inovasi strategi dan perubahan komposisi pemain yang dilakukan sepanjang laga berlangsung. Hal ini berdampak pada minimnya kontribusi gol yang tercipta melalui skema permainan terbuka atau open play.