PORTAL7.CO.ID - Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kian tak terbendung, kita sering kali terjebak dalam labirin perdebatan yang kering akan nilai spiritual. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi justru kerap berubah menjadi medan tempur ego, di mana kata-kata tajam dilemparkan tanpa memikirkan dampaknya bagi persaudaraan. Fenomena ini menunjukkan adanya degradasi moral yang serius, di mana semangat untuk menang dalam berargumen jauh melampaui semangat untuk mencari kebenaran dan menjaga kehormatan sesama Muslim. Sebagai hamba Allah, kita perlu merenungkan kembali tujuan utama dari setiap interaksi sosial kita agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan.

Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur'an agar kita tidak merendahkan satu kaum terhadap kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang direndahkan jauh lebih mulia di sisi Allah. Larangan ini bukan sekadar etika sosial, melainkan perintah agama yang berkonsekuensi pada kualitas iman seseorang. Ketika kita mulai memandang rendah saudara kita hanya karena perbedaan pandangan politik atau pemahaman keagamaan, pada saat itulah benih-benih kesombongan mulai menggerogoti hati. Berikut adalah firman Allah yang menjadi landasan utama dalam menjaga lisan dan sikap:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11)

Dalam berkomunikasi, Islam memerintahkan kita untuk senantiasa memilih kata-kata yang terbaik agar tidak memberi celah bagi setan untuk mengadu domba. Sebuah ucapan yang kasar, meskipun mengandung kebenaran, sering kali justru menutup pintu hati pendengarnya. Oleh karena itu, diplomasi bahasa yang santun adalah kunci dalam dakwah dan dialektika sosial. Allah SWT berpesan kepada hamba-hamba-Nya untuk menjaga lisan mereka sebagaimana tertuang dalam ayat berikut:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Terjemahan: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'" (QS. Al-Isra: 53)

Kedewasaan dalam beragama diuji ketika kita mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak berujung dan tidak menghasilkan amal saleh. Rasulullah SAW bahkan menjanjikan kedudukan yang tinggi di surga bagi mereka yang bersedia mengalah dalam perdebatan demi menjaga kedamaian, meskipun ia berada di pihak yang benar. Menahan ego demi keutuhan ukhuwah adalah bentuk jihad nafs yang sangat besar pahalanya di sisi Allah SWT. Mari kita simak sabda Rasulullah SAW yang sangat menyentuh ini:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Terjemahan: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan meskipun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya." (HR. Abu Daud no. 4800, dihasankan oleh Al-Albani)

Sebagai penutup, marilah kita kembali mempererat tali persaudaraan yang mungkin sempat merenggang akibat badai perbedaan. Sesungguhnya, kekuatan umat Islam terletak pada persatuannya, bukan pada seberapa hebat kita menjatuhkan argumen lawan bicara. Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, menghiasi lisan kita dengan zikir dan perkataan yang baik, serta mengumpulkan kita semua dalam naungan rahmat-Nya sebagai saudara yang saling mencintai karena-Nya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)