Kebiasaan berbagi kosmetik, seperti meminjam lipstik atau maskara, sering dianggap sepele dan merupakan bagian dari momen kebersamaan di kalangan wanita. Namun, praktik ini menyimpan risiko kesehatan yang signifikan, terutama terkait potensi penularan bakteri, virus, dan jamur. Para ahli dermatologi mengingatkan bahwa beberapa produk riasan memiliki potensi tinggi menjadi media penyebaran infeksi kulit dan mata. Kesadaran akan higienitas pribadi sangat penting untuk menghindari dampak buruk pada kesehatan wajah.

Dua kategori produk yang paling berbahaya untuk dipinjamkan adalah yang digunakan pada area mata dan mulut. Maskara dan eyeliner cair dapat mentransfer bakteri Staphylococcus dari satu mata ke mata lainnya, yang berpotensi menyebabkan konjungtivitis atau infeksi serius. Sementara itu, lipstik dan lip gloss berisiko menularkan virus herpes simplex, yang menyebabkan sariawan, melalui kontak langsung dengan area mulut yang sensitif. Kedua jenis produk ini memiliki lingkungan lembab yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Kontaminasi silang tidak hanya terjadi melalui penggunaan aplikator yang sama, tetapi juga pada kemasan produk itu sendiri. Produk yang berbentuk krim atau foundation dalam wadah jar, yang mengharuskan pengguna mencelupkan jari, sangat rentan terhadap bakteri dari tangan. Kelembaban dan suhu ruangan di sekitar produk juga dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. Oleh karena itu, kontak langsung jari ke produk harus dihindari sebisa mungkin.

Menurut Dr. Sari Wibowo, seorang spesialis dermatologi, setiap produk kosmetik memiliki masa pakai dan batas higienisnya sendiri yang perlu diperhatikan. Ia menekankan bahwa air liur, keringat, dan minyak alami dapat merusak formulasi produk, menjadikannya sarang kuman lebih cepat dari tanggal kedaluwarsa resmi. Dr. Sari menyarankan agar konsumen segera membuang produk yang sudah berubah tekstur atau aroma, meskipun belum habis digunakan.

Dampak dari berbagi riasan bisa berkisar dari iritasi kulit ringan hingga infeksi serius yang memerlukan penanganan medis intensif. Infeksi jamur, jerawat parah yang tidak kunjung sembuh, dan bahkan kasus kebutaan parsial pernah dilaporkan sebagai konsekuensi penggunaan produk yang terkontaminasi. Kesadaran akan risiko ini penting untuk menghindari biaya pengobatan yang mahal serta kerusakan kulit jangka panjang.

Dalam konteks industri kecantikan saat ini, solusi sanitasi semakin dikembangkan untuk mengatasi masalah kontaminasi ini, terutama di konter-konter demo. Penggunaan aplikator sekali pakai, spatula, dan cairan pembersih alkohol khusus kini menjadi praktik standar yang dianjurkan. Konsumen pribadi juga disarankan untuk mengadopsi praktik serupa, termasuk membersihkan kuas secara rutin minimal seminggu sekali.

Kesimpulannya, menjaga kepemilikan pribadi atas produk riasan adalah langkah preventif kesehatan yang esensial dan tidak boleh ditawar lagi. Lima produk utama—maskara, lipstik, eyeliner cair, kuas/spons, dan produk dalam kemasan jar—sebaiknya tidak pernah dipinjamkan kepada siapapun. Prioritas higienitas harus selalu diutamakan di atas kesenangan berbagi dalam sesi merias wajah demi menjaga kesehatan kulit dan mata.