PORTAL7.CO.ID - Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang pada Kamis (16/4/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung efektivitas sistem pengairan sawah melalui program pompanisasi yang sedang digalakkan pemerintah.

Pemerintah secara resmi telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar, yakni mencapai Rp5 triliun, untuk mendukung keberlanjutan program tersebut secara nasional. Langkah strategis ini diambil guna meningkatkan indeks pertanaman, terutama pada lahan-lahan persawahan yang selama ini sulit mendapatkan pasokan air yang stabil.

Skema pompanisasi ini difokuskan pada area persawahan yang memiliki posisi geografis lebih tinggi dibandingkan dengan sumber air sungai di sekitarnya. Teknologi ini diproyeksikan mampu mengubah pola tanam sawah tadah hujan yang biasanya hanya satu kali panen menjadi tiga kali dalam setahun, dilansir dari Detikcom.

"Program pompanisasi di wilayah ini tergolong sangat kreatif karena sudah mulai berjalan, sehingga frekuensi panen yang semula hanya sekali kini bisa meningkat menjadi tiga kali berkat pemasangan perangkat pompa tersebut," ujar Mentan Amran Sulaiman.

Pemerintah memiliki target ambisius untuk memperluas jangkauan pompanisasi hingga ke berbagai wilayah lahan kering dan dataran tinggi di seluruh Indonesia. Strategi ini menjadi bagian penting dari upaya besar pemerintah dalam memperkuat cadangan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.

"Kami berharap seluruh lahan kering atau daerah dataran tinggi di Indonesia yang biasanya hanya panen sekali bisa naik menjadi dua atau tiga kali, dan untuk itu kami telah menganggarkan dana sekitar 4 hingga 5 triliun rupiah untuk pompanisasi," kata Amran.

Kementerian Pertanian memprediksi akan terjadi lonjakan produksi gabah yang signifikan apabila program ini berhasil menjangkau target satu juta hektare lahan. Selain pompanisasi, pemerintah juga terus menjalankan program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa secara terintegrasi dan simultan.

"Jika kita mampu menjangkau satu juta hektare dengan produktivitas 6 ton per hektare, maka akan ada kenaikan 6 juta ton gabah, dan langkah ini dilakukan bersamaan dengan cetak sawah serta optimalisasi lahan rawa," imbuh Amran.

Melalui inisiatif Luas Tambah Tanam (LTT), pemerintah optimistis volume produksi beras nasional dapat ditingkatkan tanpa harus menambah luas fisik lahan secara besar-besaran. Kunci utamanya terletak pada penambahan frekuensi tanam dalam satu tahun pada hamparan lahan yang sama melalui dukungan teknologi pengairan.