JAKARTA – Diskusi “Ngobrol Santai GN’98 Bersama Awak Media” diwarnai suasana haru saat nama Affan Kurniawan, seorang driver ojol asal Yogyakarta, disebut. Affan meninggal dunia pada 25 Agustus 2025 lalu, dan di balik kesedihan tersebut tersimpan pesan penting mengenai lemahnya perlindungan negara terhadap pekerja platform digital.

Dodi Ilham, Presiden GOBER Community, menegaskan bahwa kematian Affan bukan sekadar kehilangan pribadi. "Kematian Affan adalah alarm kebangsaan. Negara tak boleh lagi abai pada nasib pekerja platform digital," kata Dodi, pada Minggu, 21 September 2025.

Data terbaru menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata driver ojol hanya Rp1,47 juta per bulan, jauh di bawah UMP DKI Jakarta yang mencapai Rp5,067 juta. Sebagian besar pendapatan tersebut habis untuk biaya operasional seperti bensin, pulsa, cicilan motor, dan perawatan. Akibatnya, sisa pendapatan yang ada hanya cukup untuk bertahan hidup, jauh dari standar hidup yang layak.

GN’98 menilai kondisi ini mencerminkan kegagalan prinsip supremasi sipil dalam melindungi kelompok rentan di sektor informal.

Diskusi GN’98 juga mencatat tiga masalah utama yang menyebabkan aspirasi driver ojol sering terhambat:

1. **Distorsi Representasi** – Suara driver sering kali dibajak oleh elit yang tidak memahami realitas di lapangan.

2. **Asimetri Informasi** – Aplikator menguasai data, sementara driver hanya "menyetir" tanpa posisi tawar yang kuat.

3. **Fragmentasi Komunitas** – Kesulitan untuk bersatu karena kepentingan jangka pendek yang mudah memecah belah.

Dari forum tersebut, muncul tiga pilar solusi yang dianggap sebagai jalan keluar struktural: