PORTAL7.CO.ID - Pernyataan dari sejumlah tokoh publik mengenai potensi kekacauan atau "chaos" pada pertengahan tahun 2026 telah memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Salah satu pihak yang angkat bicara adalah Wakil Ketua Umum Partai Golkar bidang kebijakan publik, Idrus Marham, yang menyayangkan narasi pesimistik tersebut.

Idrus Marham menilai bahwa narasi spesifik mengenai potensi kekacauan tersebut berpotensi besar menimbulkan keresahan dan ekspektasi negatif di tengah masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa peran setiap tokoh saat ini seharusnya adalah berkontribusi dalam menciptakan situasi yang kondusif dan menenangkan jiwa rakyat.

Menurut pandangan Idrus, penyebaran narasi yang memprediksi kerusuhan dengan tingkat kepastian tinggi dapat berdampak buruk pada perilaku antisipatif masyarakat. Dampak negatif ini dikhawatirkan akan merugikan sektor ekonomi serta tatanan sosial secara keseluruhan.

Ia bahkan mengungkap kecurigaan adanya motif tersembunyi di balik maraknya narasi pesimisme yang beredar luas belakangan ini. Mantan Sekjen Golkar ini menyayangkan jika isu ketidakstabilan sengaja digulirkan sebagai instrumen tekanan politik atau ekonomi oleh pihak yang merasa kepentingannya terganggu.

"Kalau sebuah pernyataan sudah menentukan akan terjadi sesuatu, itu bukan lagi prediksi. Itu seperti sudah ada skenario dan target operasi," ujar Idrus Marham, menyoroti bahaya dari pernyataan yang bersifat prediktif mengenai kerusuhan.

Idrus menekankan pentingnya disiplin komunikasi bagi semua tokoh publik, karena penyebaran isu chaos yang tidak terukur hanya akan membuka celah bagi pihak-pihak tertentu untuk mengganggu stabilitas nasional. Kepercayaan publik merupakan elemen krusial bagi kekuatan ekonomi bangsa, sehingga iklim politik dan ekonomi yang kondusif harus dijaga bersama.

Lebih lanjut, Idrus menyoroti langkah pemerintah yang berhasil mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi meskipun ada tekanan kenaikan harga minyak dunia. Ia melihat kebijakan ini sebagai bukti keberpihakan pemerintah kepada rakyat, yang seharusnya didukung, bukan dirongrong narasi negatif.

"Pemerintah sudah mengambil langkah untuk tidak menaikkan BBM, justru ada narasi yang seolah-olah mendorong kondisi menjadi tidak stabil. Ini yang harus kita hindari," tegas Idrus, seraya mengingatkan bahwa risiko kenaikan BBM akan ditanggung oleh rakyat dan pemerintah.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab), Letkol Teddy Indra Wijaya, juga telah menepis narasi negatif tersebut dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Jumat, 10 April 2026. Teddy menegaskan bahwa narasi yang menyebut Indonesia akan mengalami kekacauan tidak berdasar pada kondisi nyata di lapangan.