Pergeseran mimbar dakwah dari ruang fisik ke layar gawai telah mengubah cara Generasi Z dalam mempelajari nilai-nilai keislaman secara drastis. Sebagai penduduk asli digital, kemudahan akses terhadap literatur Islam menjadi peluang sekaligus tantangan besar bagi kualitas iman mereka. Namun, fenomena ini sering kali menciptakan paradoks di mana keluasan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman.

Algoritma media sosial saat ini cenderung memprioritaskan konten berdurasi singkat dan visual yang menarik daripada substansi pemikiran yang mendalam. Hal ini berisiko mereduksi pesan-pesan agama yang kompleks menjadi sekadar kutipan instan tanpa penjelasan konteks yang memadai. Akibatnya, banyak pemuda Muslim yang terjebak dalam pemahaman parsial yang justru menjauhkan mereka dari hakikat ajaran Islam yang utuh.

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)