PORTAL7.CO.ID - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, atau yang lebih dikenal sebagai BNI, telah mengambil langkah korporasi signifikan dengan menyiapkan dana besar untuk melakukan aksi pembelian kembali sahamnya sendiri. Alokasi dana yang disiapkan untuk program buyback saham BBNI ini mencapai angka fantastis, yakni Rp905,48 miliar.
Keputusan strategis ini bukan dilakukan tanpa dasar, melainkan telah mendapatkan restu resmi dari pemegang saham. Persetujuan tersebut ditegaskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada hari Senin, 9 Maret 2026.
Langkah buyback ini ditujukan untuk memberikan ruang gerak yang lebih luwes bagi manajemen dalam mengelola struktur permodalan bank ke depannya. Hal ini sejalan dengan pandangan manajemen mengenai prospek jangka panjang perusahaan.
Okki Rushartomo, selaku Corporate Secretary BNI, menyampaikan bahwa keputusan ini mencerminkan optimisme manajemen terhadap kinerja masa depan perseroan. "Keputusan buyback ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang Perseroan sekaligus memberikan ruang fleksibilitas," ujar Okki Rushartomo dalam keterangan tertulis yang diterima publik.
Seluruh saham yang berhasil diakuisisi melalui mekanisme buyback ini akan dicatat sebagai saham tresuri oleh BNI. Saham tresuri ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan strategis di masa mendatang.
Aset saham tresuri tersebut memiliki opsi untuk ditawarkan kembali melalui mekanisme perdagangan di bursa efek. Selain itu, saham ini juga dapat dialokasikan untuk mendukung program kepemilikan saham yang ditujukan bagi karyawan dan jajaran pengurus BNI.
Manajemen BNI menegaskan bahwa nilai total transaksi pembelian kembali saham ini dijamin tidak akan melebihi batas maksimal yang ditetapkan. Batasan tersebut adalah 10 persen dari total modal yang telah ditempatkan pada kode saham BBNI.
Pendanaan untuk seluruh kegiatan buyback saham ini dipastikan berasal sepenuhnya dari sumber internal perusahaan. Dana tersebut diambil dari arus kas bebas BNI, khususnya dari saldo laba yang sebelumnya belum dialokasikan untuk tujuan fungsional tertentu, dilansir dari Money.
Keputusan ini juga muncul sebagai respons terhadap kondisi pasar saham perbankan domestik sepanjang tahun 2025. Pasar saat itu menghadapi tekanan signifikan akibat adanya berbagai ketidakpastian global dan risiko geopolitik.