PORTAL7.CO.ID - Pimpinan eksekutif Ford, Jim Farley, secara terbuka mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk segera memberlakukan larangan total terhadap penjualan kendaraan asal China di pasar domestik. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah masifnya ekspansi produsen otomotif dari Negeri Tirai Bambu ke kawasan Amerika Utara pada Kamis (16/4/2025).

Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Oto, Farley memprediksi akan terjadi dampak destruktif pada sektor manufaktur Amerika Serikat jika akses pasar diberikan secara bebas kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Kehadiran mereka dipandang bukan sekadar kompetisi bisnis biasa, melainkan ancaman sistemik bagi keberlangsungan industri otomotif lokal.

"Kita seharusnya tidak membiarkan mereka masuk ke negara kita," tegas Jim Farley dalam sebuah wawancara bersama Fox News.

Pernyataan ini menandai perubahan sikap yang signifikan dari Farley, yang sebelumnya sempat memberikan apresiasi terhadap kemajuan teknologi pada merek-merek seperti BYD dan Xiaomi. Namun, saat ini ia lebih menyoroti adanya ketidakseimbangan biaya produksi yang sangat mencolok antara produsen AS dan China.

"Jadi, ini sama sekali bukan pertarungan yang adil," sambung Jim Farley.

Farley menjelaskan bahwa pemerintah China memberikan dukungan finansial berupa subsidi yang sangat besar kepada para produsen otomotifnya. Hal ini memungkinkan unit kendaraan listrik dijual dengan harga yang sangat rendah, sehingga menciptakan tantangan yang hampir mustahil untuk ditandingi oleh produsen lokal di Amerika Serikat.

Selain faktor persaingan harga, aspek keamanan nasional juga menjadi perhatian utama dalam desakan pelarangan tersebut. Farley menyoroti potensi risiko privasi yang muncul dari penggunaan berbagai perangkat teknologi canggih yang tersemat pada mobil-mobil listrik modern asal China.

"Semua kendaraan (asal China) ini memiliki 10 kamera. Mereka dapat mengumpulkan banyak data. Jadi, saya sangat berharap, kita tidak mengizinkan mereka melewati perbatasan," tutur Jim Farley.

Saat ini, otoritas Amerika Serikat sebenarnya telah menerapkan kebijakan tarif impor sebesar 100 persen untuk meredam laju penetrasi kendaraan China. Namun, produk-produk tersebut mulai mencari celah melalui negara tetangga seperti Meksiko dan Kanada yang memiliki kebijakan perdagangan lebih terbuka.