PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Kabupaten Bandung mengambil langkah proaktif dalam menghadapi ancaman banjir dengan merencanakan pembangunan 20 infrastruktur baru yang berfokus pada pengendalian air. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap penyusutan drastis daerah resapan air di wilayah hulu akibat alih fungsi lahan.
Perubahan signifikan lahan hutan menjadi kawasan permukiman dan pertanian telah mempercepat aliran air menuju dataran yang lebih rendah di Cekungan Bandung. Kondisi ini diperparah dengan adanya penumpukan sedimen dan sampah yang menyebabkan penyempitan pada alur sungai di titik-titik kritis.
Menurut data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, alih fungsi lahan yang masif menjadi kontributor utama permasalahan hidrologi di wilayah tersebut. Fenomena ini meningkatkan volume air yang tiba-tiba membanjiri kawasan hilir dalam waktu singkat.
Kepala DPUTR Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqwa, menjelaskan bahwa karakteristik geografis daerah ini menyerupai mangkuk seluas 1.800 kilometer persegi yang dikelilingi oleh pegunungan. Semua aliran air dari pegunungan bermuara ke pusat cekungan melalui Sungai Citarum, namun sulit mengalir keluar sehingga memicu genangan di bagian tengah dan selatan.
Zeis menggarisbawahi dampak nyata dari perubahan tata ruang tersebut, menyebutkan bahwa dalam satu dekade terakhir terjadi pergeseran fungsi lahan pertanian seluas 942,68 hektare menjadi area terbangun. Hal ini secara langsung mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan secara alami.
"Kita lihat di Kecamatan Cimenyan, lahan permukiman bertambah hingga 584,90 hektare, yang berbanding lurus dengan menyusutnya lahan pertanian sebesar 582,4 hektare. Terus di Cilengkrang juga ada penambahan luas permukiman mencapai 321,03 hektare," ujar Zeis Zultaqwa, Kepala DPUTR Kabupaten Bandung.
Akibat perubahan fungsi lahan tersebut, potensi genangan banjir kini mencakup area seluas 10.140 hektare yang tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Bandung. Wilayah yang paling sering terdampak adalah Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang, meskipun Majalaya dan Rancaekek juga kerap mengalami luapan air.
Secara topografi, Kabupaten Bandung memiliki kontras elevasi yang ekstrem, di mana Kecamatan Kertasari berada di titik tertinggi pada 1.512 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sebaliknya, wilayah Baleendah dan Dayeuhkolot merupakan titik terendah di angka 664 MDPL.
"Sementara wilayah seperti Baleendah dan Dayeuhkolot berada di titik terendah yakni 664 MDPL," ucap Zeis.