Aku selalu percaya bahwa kesuksesan haruslah rapi, terukur, dan tanpa cacat. Obsesiku pada kesempurnaan membuatku menghabiskan seluruh malam merancang ‘Bumi Langit’, proyek kompetisi arsitektur yang kuanggap sebagai tiket emas menuju pengakuan. Setiap garis yang kutorehkan adalah janji, setiap detail adalah harga diri.
Namun, realitas tidak pernah serapi sketsa di atas kertas. Email singkat itu tiba di suatu pagi yang cerah, berisi penolakan yang dingin dan tanpa basa-basi. Proyek ‘Bumi Langit’ dianggap terlalu ambisius dan tidak realistis; seluruh mimpi yang kubangun selama berbulan-bulan runtuh dalam hitungan detik.
Aku mengunci diri selama tiga hari, membiarkan kegagalan itu mengikis habis keyakinan yang susah payah kubangun. Rasa malu jauh lebih berat daripada rasa kecewa; aku merasa seperti seorang penipu yang berpura-pura tahu cara membangun masa depan, padahal fondasi diriku sendiri rapuh.
Tumpukan blueprint di sudut ruangan terasa seperti monumen kegagalan yang mengejekku. Aku menatap sketsa-sketsa yang kini terasa asing, menyadari betapa kerasnya aku berusaha mengontrol setiap variabel, berharap dunia akan tunduk pada kemauan dan kecerdasanku semata.
Di tengah kekalutan itu, Pak Gema, mentor lamaku, datang dan hanya duduk diam. Ia tidak menawarkan kata-kata motivasi klise, melainkan menunjuk pada tumpukan kertas itu dan berkata, "Elara, kegagalan bukan akhir cerita. Itu hanyalah data yang harus kau olah ulang." Kata-katanya perlahan menembus pertahananku. Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang kecepatan kita bangkit setelah terjerembab. Menerima bahwa alur dari setiap individu adalah sebuah proses yang berliku, layaknya sebuah Novel kehidupan yang belum selesai ditulis.
Aku akhirnya memberanikan diri membereskan reruntuhan itu, bukan untuk melupakan, melainkan untuk belajar. Aku menyadari bahwa proyek terbesarku bukanlah ‘Bumi Langit’, melainkan membangun ulang diriku sendiri dengan fondasi yang lebih kuat, yang tidak takut akan ketidaksempurnaan.
Pena kembali kugenggam, kali ini tanpa tekanan untuk membuktikan apa pun pada dunia, hanya pada diriku sendiri. Aku mulai merancang sebuah taman komunitas kecil, proyek sederhana yang jauh dari gemerlap kompetisi, namun penuh dengan makna dan tujuan.
Ternyata, peta menuju kedewasaan tidak digambar dengan garis lurus yang sempurna, melainkan dengan lekukan dan bekas lipatan yang menunjukkan bahwa kita pernah tersesat, namun berhasil menemukan jalan pulang. Apakah aku sudah sepenuhnya dewasa? Belum. Tapi aku sudah siap menghadapi babak selanjutnya, bahkan jika halaman itu dipenuhi tinta yang tumpah.