Aku selalu berpikir kedewasaan adalah garis finis yang otomatis kudapatkan seiring bertambahnya usia, seperti hadiah ulang tahun. Aku menjalani masa muda dengan keyakinan buta bahwa semua rencana yang kubuat di atas kertas pasti akan terwujud, tanpa celah sedikit pun. Kesombongan yang terselubung itu membuatku menutup mata terhadap proses dan perjuangan orang lain.
Tamparan itu datang tanpa aba-aba, dingin dan mematikan, ketika surat penolakan beasiswa impian itu tiba di meja. Semua yang telah kurangkai—masa depan cerah, pengakuan, dan kenyamanan—hancur menjadi debu dalam sekejap mata. Aku terpuruk, menyalahkan semesta atas kegagalan yang sesungguhnya berakar dari kurangnya persiapan dan keenggananku menerima kritik.
Dalam keputusasaan itu, aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan hiruk pikuk kota yang terasa menghakimi, menuju sebuah desa kecil di pinggiran Jawa Barat. Di sana, aku menerima pekerjaan seadanya sebagai asisten di warung makan, jauh dari gemerlap ambisi yang pernah kukenal. Tangan halusku kini harus berhadapan dengan minyak panas dan tumpukan piring kotor yang tak pernah habis.
Setiap malam, punggungku terasa remuk, dan air mata sering menetes diam-diam di atas bantal murah yang keras. Di sinilah aku dipaksa berinteraksi dengan realitas orang-orang yang berjuang hanya untuk hari esok, bukan untuk gelar atau status sosial. Kehidupan yang dulu kulihat sebagai hitam putih kini mulai menampilkan gradasi abu-abu yang rumit.
Aku menyadari bahwa kegagalan ini adalah babak terberat, namun paling jujur, dari Novel kehidupan yang sedang kutulis. Ini adalah ujian yang harus kulalui untuk mengupas lapisan ego yang tebal, agar aku bisa melihat dunia dengan mata yang lebih tulus dan hati yang lebih lapang. Kedewasaan ternyata adalah proses penemuan diri, bukan pencapaian semata.
Di warung itu, aku bertemu dengan Ibu Tati, pemilik warung yang selalu tersenyum meski hidupnya dipenuhi pasang surut. Ia mengajariku bahwa kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur atas hal-hal kecil, seperti senja yang indah atau semangkuk nasi hangat. Pelajaran dari Ibu Tati lebih berharga daripada semua teori yang pernah kupelajari di bangku kuliah.
Perlahan, aku mulai bangkit, bukan dengan ambisi yang membara, melainkan dengan ketenangan yang menghargai setiap langkah kecil. Aku belajar bahwa meminta maaf, mengakui kelemahan, dan bekerja keras tanpa mengharapkan pujian adalah bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Luka itu tidak hilang, tapi ia telah bermetamorfosis menjadi bekas luka yang indah, penanda bahwa aku pernah jatuh namun memilih untuk berdiri lagi.
Kini, aku kembali ke kota, bukan sebagai Risa yang arogan dan penuh tuntutan, melainkan sebagai seorang yang lebih rendah hati dan matang. Aku membawa serta bau bawang dan keringat, pelajaran tentang ketahanan, dan pemahaman bahwa jalan yang berliku seringkali adalah jalan terbaik untuk mencapai tujuan yang hakiki.
Aku masih belum tahu ke mana langkah selanjutnya akan membawaku, apakah aku akan meraih puncak karier atau menemukan kebahagiaan di jalan yang tak terduga. Yang pasti, aku siap. Karena aku tahu, setelah melewati badai terhebat, jiwa ini telah ditempa menjadi baja yang tak mudah patah.
