Momen berbuka puasa merupakan waktu yang paling dinantikan oleh seluruh umat Muslim setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Di Indonesia, terdapat keragaman dalam melafalkan doa berbuka, termasuk yang secara khusus diamalkan oleh warga Muhammadiyah. Perbedaan ini mencerminkan kekayaan literatur fikih yang berkembang secara dinamis di tengah masyarakat tanah air.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah umumnya merujuk pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud untuk bacaan berbuka puasa. Lafal "Dzahaba-zh-zhama’u wab-tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah" menjadi pilihan utama bagi organisasi ini. Doa tersebut memiliki makna mendalam mengenai hilangnya rasa haus dan tetapnya pahala di sisi Allah SWT.
Di sisi lain, sebagian besar masyarakat Indonesia juga sangat akrab dengan doa "Allahumma laka shumtu". Bacaan ini sering terdengar melalui pengeras suara masjid maupun tayangan televisi sesaat sebelum azan Magrib berkumandang. Meskipun berbeda secara redaksional, esensi dari kedua doa tersebut tetaplah bentuk rasa syukur yang tulus kepada Sang Pencipta.
Penulisan Arab untuk doa versi Muhammadiyah diawali dengan kata *dzahaba* yang secara harfiah berarti telah hilang. Artinya secara lengkap adalah "Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah, serta pahala telah ditetapkan, insya Allah". Kalimat ini biasanya diucapkan tepat setelah seseorang membatalkan puasa dengan air atau kurma.
Sementara itu, doa yang umum digunakan masyarakat memiliki arti "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka". Doa ini dipanjatkan sebagai permohonan agar ibadah yang dijalankan seharian penuh diterima oleh Allah SWT. Keduanya memiliki landasan dalil yang kuat dan dapat diamalkan sesuai dengan keyakinan masing-masing individu.
Perbedaan penggunaan doa ini tidak pernah menjadi penghalang bagi kerukunan umat Islam di Indonesia selama bulan suci Ramadan. Para ulama menekankan bahwa hal yang paling fundamental adalah niat yang tulus dan kesadaran dalam menjalankan perintah agama. Keberagaman ini justru memperlihatkan kedalaman pemahaman agama yang sangat inklusif di wilayah nusantara.
Memahami variasi doa berbuka puasa membantu umat untuk lebih menghargai perbedaan praktik ibadah di lingkungan sekitarnya. Baik menggunakan versi Muhammadiyah maupun versi umum, keduanya bertujuan untuk meraih keberkahan di bulan suci yang penuh ampunan. Semoga setiap tegukan air saat berbuka menjadi wasilah datangnya rahmat yang melimpah dari Allah.