Dulu, hidupku adalah rangkaian melodi yang ceria dan tanpa beban, berputar di antara kedai kopi dan diskusi panjang tentang filsafat yang tak pernah kuaplikasikan. Aku adalah si penunda ulung, meyakini bahwa kedewasaan akan datang dengan sendirinya seperti musim berganti, tanpa perlu dijemput paksa. Aku nyaman dalam gelembung kemudaanku yang rapuh.
Semua berubah saat panggilan telepon itu datang, membawa kabar yang merenggut jangkar kehidupanku. Tiba-tiba, tumpukan tanggung jawab yang beratnya setara dengan gunung es diletakkan di pundakku yang selama ini hanya terbiasa membawa tas selempang ringan. Aku harus menjadi wali, pengambil keputusan, dan penopang bagi seseorang yang sangat bergantung padaku.
Malam-malam awal terasa seperti terjebak dalam lautan badai tanpa perahu, penuh dengan air mata yang kusimpan rapat-rapat di bawah selimut. Aku marah pada semesta yang tega merenggut kebebasanku dan memaksaku tumbuh sebelum waktunya. Rasanya seperti dipaksa mengenakan sepatu bot baja padahal aku masih ingin berlari dengan sepatu kets.
Aku mencoba lari. Aku sempat merencanakan perjalanan tanpa batas, meninggalkan semua kekacauan ini di belakang. Namun, setiap kali pandanganku bertemu dengan mata polos yang kini menatapku penuh harap, langkahku terpaku. Ada suara kecil di dalam diriku yang berbisik, bahwa pelarian hanyalah ilusi yang menunda rasa sakit.
Maka, aku memilih untuk tinggal dan menghadapi labirin ini. Di sinilah aku menyadari bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi adalah babak penting dalam sebuah Novel kehidupan yang sedang kita tulis. Kedewasaan bukanlah tentang usia yang tertera di kartu identitas, melainkan tentang seberapa besar kita berani memikul konsekuensi dari pilihan yang sulit.
Perlahan, aku mulai belajar mengurus hal-hal yang dulu kuanggap remeh; membayar tagihan, membuat anggaran, hingga memastikan ada makanan di meja setiap malam. Prosesnya terasa lambat dan menyakitkan, penuh dengan kesalahan bodoh yang membuatku ingin menyerah. Namun, setiap kali aku berhasil melewati satu hari lagi, ada kekuatan baru yang terpatri di dalam jiwa.
Aku melihat diriku yang baru di cermin, bukan lagi gadis yang takut akan bayangannya sendiri, melainkan wanita yang matanya memancarkan ketenangan yang didapat dari badai yang telah dilewati. Bekas luka emosional itu tidak hilang, justru menjadi peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah.
Tanggung jawab itu tidak merenggut hidupku; ia justru memberiku definisi baru tentang makna hidup yang sesungguhnya. Aku belajar bahwa cinta yang paling murni adalah tindakan nyata, bukan sekadar janji-janji manis.
Kini, senja di ujung pelarian terasa damai, bukan lagi akhir yang menakutkan, melainkan awal dari babak baru yang penuh harapan. Aku telah menemukan kedewasaan bukan karena aku mencarinya, melainkan karena aku dipaksa menjemputnya. Pertanyaannya, apakah aku siap untuk ujian berikutnya yang pasti akan datang tanpa permisi?
