Aku selalu membayangkan diriku berjalan di koridor kampus yang megah, bukan terkurung di balik meja kasir yang berbau kertas tua. Ketika kabar itu datang, merenggut sosok Ayah dan sekaligus impianku untuk merantau, dunia seolah berhenti berputar. Seketika, aku yang baru saja lulus sekolah, harus menjadi kepala keluarga dan pewaris toko buku "Jendela Kata" yang sekarat.
Etalase tua itu, yang dulunya kubanggakan, kini terasa seperti jeruji besi yang mengikat. Tumpukan buku yang seharusnya menjadi jendela dunia, kini hanya menjadi beban berat di pundakku yang kurus. Setiap pagi, aku harus memaksa diri membuka kunci, menghadapi sepi dan debu yang seolah mengejek ketidakmampuanku.
Frustrasi adalah teman setiaku di bulan-bulan awal. Aku marah pada takdir, marah pada para pelanggan yang enggan datang, dan paling utama, marah pada diriku sendiri karena tidak tahu harus mulai dari mana. Aku mencoba berbagai cara, dari diskon gila-gilaan hingga menata ulang rak, namun hasilnya nihil; angka di pembukuan tetap merah.
Kedewasaan ternyata bukan sekadar angka di kartu identitas, melainkan tentang seberapa cepat kita bangkit setelah terlempar ke jurang kegagalan. Aku belajar bahwa mengelola warisan bukan hanya tentang menjual buku, tetapi tentang merawat kenangan dan harapan yang ditinggalkan. Aku harus menelan ego, meminta saran dari pedagang lain, dan menerima kenyataan bahwa aku harus belajar dari nol, seperti bayi yang baru merangkak.
Ada satu sore, saat badai menghantam dan listrik padam, aku menemukan pembukuan lama Ayah yang terselip. Catatan tangan yang rapi itu tidak hanya berisi angka, tetapi juga coretan tentang mimpi dan kekecewaannya. Saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak berjuang sendirian; aku melanjutkan sebuah estafet perjuangan yang jauh lebih besar dari sekadar untung rugi.
Aku sadar, semua kesulitan ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku bukan lagi Arya yang cengeng dan pengecut; aku adalah Arya yang berani menghadapi sepi, yang belajar menghargai setiap lembar kertas yang tersisa. Proses ini mengajariku bahwa luka finansial bisa sembuh, tetapi luka emosional yang membentuk karakter adalah investasi yang tak ternilai.
Setahun berlalu, Jendela Kata memang belum makmur, tetapi ia bertahan. Aku mulai mengadakan klub baca kecil di sudut toko, mengubah etalase yang tadinya kusam menjadi sedikit lebih hidup. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apakah toko ini akan benar-benar bangkrut atau justru menemukan kejayaannya kembali.
Namun, satu hal yang pasti: meskipun aku kehilangan kesempatan untuk meraih gelar sarjana, aku telah mendapatkan gelar yang jauh lebih berharga—gelar kematangan. Kedewasaan itu terasa pahit, seperti kopi tanpa gula, tetapi di balik rasa pahit itu, tersembunyi aroma yang membuatmu ingin menyesapnya lagi, dan lagi.
