PORTAL7.CO.ID - Fenomena jagat digital dewasa ini telah membawa kita pada sebuah paradoks komunikasi yang memprihatinkan. Di satu sisi, teknologi memudahkan pertukaran ide, namun di sisi lain, ia menjadi panggung di mana caci maki seringkali lebih nyaring terdengar daripada argumen yang santun. Ruang publik yang semestinya menjadi ladang dakwah dan pertukaran ilmu justru kerap terdistorsi menjadi medan pertempuran ego yang mengabaikan martabat kemanusiaan. Krisis ini bukan sekadar masalah etika komunikasi, melainkan cerminan dari rapuhnya fondasi akhlak dalam merespons perbedaan yang ada di tengah umat.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus menyadari bahwa keberagaman pemikiran adalah bagian dari skenario agung Sang Khalik. Allah SWT menciptakan manusia dengan latar belakang dan kapasitas intelektual yang berbeda bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk saling melengkapi dalam bingkai ketakwaan. Tanpa pemahaman yang mendalam mengenai hakikat perbedaan ini, kita akan terjebak dalam fanatisme buta yang merusak tatanan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah). Mari kita renungkan firman Allah SWT mengenai tujuan penciptaan manusia yang beragam berikut ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Terjemahan: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS. Al-Hujurat: 13)

Setiap kata yang kita ketikkan di kolom komentar atau unggahan media sosial adalah representasi dari keimanan kita. Islam mengajarkan bahwa integritas seorang mukmin dapat diukur dari kemampuannya menjaga lisan dan jemarinya dari menyakiti orang lain. Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai pentingnya berbicara yang baik atau memilih untuk diam jika tidak mampu membawa kemaslahatan. Hal ini merupakan kunci utama dalam meredam tensi konflik di ruang publik yang semakin memanas.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Terjemahan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Larangan untuk merendahkan orang lain ini termaktub dengan sangat tegas dalam Al-Qur'an sebagai peringatan bagi setiap jiwa yang mengaku beriman. Allah SWT mengingatkan bahwa boleh jadi orang yang kita rendahkan memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia di sisi-Nya. Oleh karena itu, sebelum kita melontarkan kritik atau bantahan di ruang publik, hendaknya kita melakukan muhasabah apakah kalimat tersebut didasari oleh keinginan mencari kebenaran atau sekadar memuaskan nafsu untuk menang sendiri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11)

Sebagai penutup, marilah kita jadikan setiap interaksi kita di ruang publik sebagai sarana untuk mendulang rida Allah SWT. Jadilah pribadi yang jika berbicara menyejukkan, dan jika berbeda pendapat tetap memuliakan. Semoga Allah senantiasa membimbing lisan dan hati kita agar selalu berada dalam koridor

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/mengembalikan-kesantunan-di-ruang-publik-saat-perbedaan-menjadi-ujian-akhlak