Gemericik hujan di jendela kamar seolah menertawakan egoku yang hancur berkeping-keping malam itu. Aku tersadar bahwa dunia tidak pernah berputar hanya untuk menuruti segala keinginan kekanak-kanakanku.
Kehilangan yang datang tiba-tiba merampas paksa zona nyaman yang selama ini kupuja dengan penuh kesombongan. Tanpa peringatan, aku dipaksa berdiri di atas kaki sendiri saat badai kehidupan mulai menerjang tanpa ampun.
Setiap tetes air mata yang jatuh menjadi saksi bisu betapa sulitnya melepaskan bayang-bayang masa lalu yang manja. Aku belajar bahwa kedewasaan bukan tentang berapa usia kita, melainkan tentang bagaimana kita merespons luka.
Malam-malam panjang kuhabiskan dengan merenung di bawah temaram lampu meja yang mulai meredup. Di sana, aku menemukan kekuatan tersembunyi yang selama ini terkubur di balik tumpukan rasa takut dan keraguan.
Aku mulai menyadari bahwa setiap bab yang kutulis dalam Novel kehidupan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kegagalan bukanlah titik akhir, melainkan tanda baca koma yang memberiku jeda untuk bernapas lebih dalam.
Perlahan namun pasti, aku mulai memaafkan diriku sendiri atas segala keputusan buruk yang pernah kuambil di masa lalu. Memaafkan adalah kunci utama untuk membuka pintu masa depan yang lebih cerah dan penuh harapan.
Kini, aku tidak lagi memandang dunia dengan kacamata hitam yang penuh dengan prasangka dan amarah. Kedewasaan telah memberiku perspektif baru bahwa setiap duri dalam perjalanan adalah bagian dari keindahan bunga mawar.
Langit pagi ini tampak lebih biru, seolah merayakan keberanianku untuk terus melangkah meski kaki masih terasa sedikit gemetar. Aku siap menulis lembaran baru dengan tinta keberanian yang tidak akan pernah luntur oleh waktu.
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan sepenuhnya di dunia ini. Namun, kita selalu memiliki kendali penuh atas bagaimana hati kita memilih untuk tetap bersyukur di tengah keterbatasan.