Di sudut kota yang riuh, aku pernah berdiri sebagai remaja yang merasa dunia berputar hanya untukku. Ego yang setinggi langit membuatku buta akan lelahnya tangan-tangan yang menopang pundakku selama ini.

Namun, badai datang tanpa permisi dan meruntuhkan menara kesombongan yang kubangun dengan susah payah. Kegagalan besar pertamaku datang seperti tamparan keras yang menyadarkanku bahwa hidup bukan sekadar tentang memenangkan kompetisi.

Aku mulai belajar mendengarkan hening, tempat di mana suara hati kecilku berbisik tentang kerendahan hati. Di sana, aku menyadari bahwa setiap air mata yang jatuh adalah tinta yang menuliskan bab baru dalam novel kehidupan yang sedang kujalani.

Proses mendewasa ternyata bukan tentang bertambahnya angka usia, melainkan tentang seberapa luas hati kita menampung kekecewaan. Aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai merangkul setiap luka sebagai bagian dari peta perjalanan hidupku.

Pertemuan dengan seorang pelukis jalanan tua di pinggir dermaga memberiku perspektif baru tentang arti sebuah kesabaran. Beliau tersenyum meski kanvasnya belum laku, seolah mengatakan bahwa kebahagiaan adalah keputusan, bukan sekadar pencapaian.

Aku mulai memaafkan diriku yang dulu terlalu keras kepala dan sering mengabaikan nasihat sederhana dari orang tua. Ternyata, kedewasaan adalah saat kita mampu menatap cermin tanpa rasa benci, meski wajah di sana penuh dengan bekas luka perjuangan.

Kini, langkahku terasa lebih ringan meski beban yang kupikul mungkin jauh lebih berat dari masa lalu. Aku tidak lagi mengejar pengakuan dunia, melainkan kedamaian batin yang selama ini kutinggalkan di balik ambisi buta.

Setiap senja yang menyapa kini menjadi pengingat bahwa kegelapan hanyalah jeda sebelum fajar yang baru menyingsing kembali. Aku telah belajar untuk tidak lagi berlari dari rasa sakit, melainkan menari bersamanya di bawah guyuran hujan kenyataan.

Perjalanan ini masih panjang, namun aku tidak lagi takut akan arah angin yang mungkin akan berubah sewaktu-waktu. Sebab, pada akhirnya, bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa bijak kita memaknai setiap langkah yang telah terinjak.