PORTAL7.CO.ID - Rumi selalu menemukan keindahan dalam retakan dinding tua Batavia, tempat ia menuangkan palet emosinya yang paling kelam. Setiap sapuan kuas adalah bisikan duka atas kehilangan yang tak terperi, sebuah melodi minor yang hanya didengar oleh angin malam.
Ia pernah memiliki segalanya: studio megah, apresiasi kritikus, dan tawa seorang wanita bernama Laras yang kini hanya tinggal kenangan samar. Kini, satu-satunya harta miliknya adalah kanvas lusuh dan bau terpentin yang melekat di jemarinya yang kapalan.
Kehidupan Rumi berubah drastis setelah tragedi itu, memaksanya turun ke jalanan, menjual mimpi-mimpi yang hampir mati kepada pejalan kaki yang tergesa-gesa. Ia belajar bahwa ketahanan jiwa seringkali diuji bukan saat kita jatuh, melainkan saat kita memilih untuk bangkit tanpa pegangan.
Di tengah hiruk pikuk pasar loak, ia bertemu seorang nenek tua bernama Marni, yang matanya menyimpan kebijaksanaan ribuan musim. Nenek Marni tak pernah membeli lukisan Rumi, namun selalu memberinya secangkir teh hangat dan cerita tentang bunga Edelweis yang tumbuh di tebing terjal.
Nenek Marni sering berkata, "Nak, lukisan terindah adalah yang kau ciptakan saat hatimu paling kosong; di situlah Tuhan mengisi ruangnya kembali dengan warna baru." Kata-kata itu menembus lapisan pertahanan Rumi yang keras.
Perlahan, Rumi menyadari bahwa perjalanannya ini adalah sebuah Novel kehidupan yang ditulis oleh takdir dengan tinta pahit dan manis secara bersamaan. Ia mulai melukis bukan lagi untuk menjual, melainkan untuk menyembuhkan.
Suatu sore, seorang gadis muda berhenti di depan karyanya, bukan karena lukisan itu indah, melainkan karena ia melihat bayangan Laras dalam sorot mata Rumi yang kini sedikit lebih teduh. Gadis itu, yang bernama Kinanti, ternyata adalah murid Laras dulu.
Kinanti tidak menawarkan uang, melainkan menawarkan sebuah kesempatan untuk kembali melukis di bawah cahaya yang berbeda, di studio kecil yang menghadap ke laut yang tak pernah dilihat Rumi sebelumnya. Ia menawarkan harapan yang berbau garam dan janji pemulihan.
Rumi menatap kanvas yang masih kosong, merasakan getaran aneh di dadanya, sebuah perasaan yang lama ia kira telah terkubur bersama kenangan pahit. Apakah ia berani membuka halaman baru dalam Novel kehidupan ini, ataukah ia akan selamanya terikat pada bayangan senja di kota tua?