Aksa selalu percaya bahwa bakatnya adalah perisai. Di usia muda, ia sudah memimpin proyek besar, membuat semua orang di sekitarnya mengagumi kecepatan dan kepercayaan dirinya yang nyaris tak terbatas. Ia berjalan di atas awan, yakin bahwa setiap desainnya adalah mahakarya yang tak tersentuh oleh kesalahan manusia.
Proyek Pusat Komunitas Harmoni adalah puncaknya. Sebuah struktur megah yang didedikasikan untuk harapan, dirancang dengan sentuhan futuristik yang membuat para kritikus berdecak kagum. Aksa menolak semua saran untuk melakukan pemeriksaan ulang pada fondasi; ia yakin perhitungannya sempurna.
Lalu, bunyi itu datang—bukan bunyi konstruksi, melainkan suara retakan yang membelah senja. Beberapa minggu sebelum peresmian, bagian sayap timur Pusat Komunitas Harmoni ambruk, menyisakan debu dan keheningan yang mematikan. Keruntuhan itu tidak hanya merobohkan beton, tetapi juga meruntuhkan seluruh ego dan identitas Aksa.
Malam-malam berikutnya dihabiskan dalam kegelapan, di tengah tumpukan cetak biru yang kini terasa seperti ejekan. Rasa malu publik terasa pahit, namun rasa bersalah pribadi jauh lebih melumpuhkan. Aksa menyadari, kesombongannya telah mengorbankan waktu, uang, dan yang paling penting, kepercayaan orang banyak.
Ia menarik diri dari dunia, hanya berinteraksi dengan seorang mandor tua bernama Pak Jaya, yang selama ini selalu ia anggap kuno. Pak Jaya tidak menghakimi, ia hanya menawarkan kopi pahit dan cerita tentang kegagalan-kegagalan terbesarnya di masa lalu. "Batu yang membuatmu tersandung," ujar Pak Jaya pelan, "adalah batu yang sama yang akan menopang fondasimu di masa depan." Saat itulah Aksa akhirnya mengerti bahwa hidup, seperti arsitektur, tidak selalu tentang keindahan sempurna di atas kertas. Kegagalan besar ini adalah babak terpenting dalam Novel kehidupan yang harus ia tulis, sebuah ujian yang menuntutnya untuk berhenti menjadi seniman sombong dan mulai menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.
Ia kembali ke lokasi proyek, bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk membersihkan puing-puing. Proses membangun kembali itu lambat, penuh keraguan, dan jauh dari gemerlap. Ia belajar mendengarkan, memeriksa setiap baut, dan merangkul kerentanan—hal-hal yang dulunya ia anggap sebagai kelemahan.
Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai kesuksesan tanpa noda, melainkan tentang kemampuan untuk berdiri di tengah reruntuhan yang kita ciptakan sendiri dan memiliki keberanian untuk mengambil sekop. Proyek kedua, yang dibangun di atas fondasi yang lebih kokoh dan hati yang lebih rendah hati, akhirnya berdiri tegak. Aksa kini tahu, luka itu adalah peta yang menunjukkan jalan pulang menuju dirinya yang sejati.